Sunday, November 28, 2010

Sebelum Terlewat .::. [Chapter 4 - Kepada Hati Itu]


Chapter 4: Kepada Hati Itu

Part I

Deru angin berhembus lembut ketika itu. Budi membuka matanya dan menarik nafas panjang. Dia mendepakan kedua tangannya sambil menikmati dan menghirup udara segar laut di hadapannya.

“Budi !!!”, suara meneriak namanya sayup-sayup kedengaran di sebalik bunyi ombak yang kuat menderu.

Dia menoleh. Sesusuk tubuh anak kecil berlari-lari anak sambil melambai-lambai ke arahnya. Dia tersenyum.

“Budi....”, anak kecil itu memanggil namanya lagi saat menghampiri Budi. Tercungap-cungap nafasnya ketika itu.

“kenapa berlari tak cukup tanah nie ??”, soal Budi.

“tengok nie.. cantik tak ??”, soal anak kecil itu manja. Tangannya menunjukkan kulit cengkerang berwarna putih kepada Budi.

Budi hanya sekadar mengangguk.

“nie untuk Budi...”, tangannya mengunjukkan kulit cengkerang dan diletakkan di atas tapak tangan Budi.

“terima kasih sayang..”, ucap Budi lantas mengucup dahi anak kecil itu.

Anak kecil itu tersengih manja. Kemudiannya, dia berlari menuju ke arah air laut yang memancar-mancar kejernihannya dek sinaran sang matahari terik.

“jom main air..”, ajak anak kecil itu sambil melambai-lambaikan tangannya.

Budi sekadar mengangguk, membalas dengan sebuah senyuman. Fikirannya menerawang jauh ke laut lepas.

“Budi !!!”, kedengaran suara anak kecil itu berteriak...

“Budi !!!...”

- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -

“Budi !! Budi !!..”, namanya diteriak lagi.

Terasa pipinya seperti ditampar-tampar lembut. Dia membuka kelopak matanya perlahan-lahan. Matanya meliar memandang sekeliling. Tiada lagi kelibat anak kecil itu atau deru ombak menemaninya saat itu.

“dah sedar pun... are you okay Budi ??”, soal Farah kepadanya.

Budi sekadar mengangguk lemah. Kepalanya terasa berdenyut-denyut ketika itu. Dia cuba untuk bangun sambil dibantu oleh Aidil dan Kiki.

“apa dah jadi bro ?”, soal Aidil pula.

Budi menggeleng-gelengkan kepalanya sahaja.

“okay ke tak nie ??”, soal Razif pula.

“okay.. aku rasa okey sikit dah..”, balas Budi ringkas.

“korang pergi hantar Budi balik dulu.. lain kali je kita sambung practice kita...”, arah Farah kepada yang lain.

Masing-masing mengangguk setuju.

- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -

Usai dihantar pulang oleh Aidil dan Kiki tengah hari tadi, Budi terus merebahkan tubuhnya di katil. Sedar tak sedar, dia terlelap terus. Menjelang senja barulah dia terjaga.

Setelah mandi, barulah badannya terasa segar sedikit. Budi menoleh sekeliling, kelibat Amar tidak dilihatnya langsung.

“mungkin dia keluar kot..”, fikir Budi lagi.

Dia hanya menghabiskan hari itu dengan menonton televisyen sahaja.

- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -

Part II

Hari itu, Budi tidak mempunyai apa-apa aktiviti luar. Untuk mengelakkan kebosanan, dia mencapai notebook, lantas terus menghidupkannya. Setelah notebook dihidupkan, dia membuka Yahoo Messenger miliknya.

Selesai login, tertera senarai rakan-rakannya yang saat itu sedang online. Matanya memerhatikan satu persatu senarai tersebut dan terhenti pada satu nama.

Budi lantas mengklik nama tersebut dan paparan skrin mesej keluar selang beberapa saat kemudian.

“assalamualaikum ??”
BUZZ..

Budi sabar menanti jawapan balas. Sambil itu, dia melayari beberapa laman web lain.

Lima minit berlalu dan masih tiada sebarang jawapan balas. Dia menyabarkan hatinya dan terus menyambung melayari laman web lagi.

Lima belas minit terus berlalu. Masih tidak berbalas. Riak muka Budi sedikit menunjukkan rasa hampa. Dia menghela nafas panjang. Skrin Yahoo Messenger tersebut ditutup.

- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -

Malam itu, Amar mengajak Budi untuk makan malam di sebuah restoran Tom Yam. Hati Budi agak panas apabila dipaksa memandu sehingga ke Bangi semata-mata untuk makan Tom Yam. Baginya, di sekitar rumah mereka pun ada banyak restoran sebegitu.

Namun, Amar beria-ia mengajaknya makan di situ juga atas alasan masakan di situ yang sedap. Budi sekadar menurut sahaja kemahuan teman serumahnya itu walaupun dia merasakan sedikit tidak puas hati.

Sesampainya di situ dan memarkir kereta Savvy miliknya di tempat yang dikhaskan oleh restoran tersebut, mereka terus memilih untuk duduk di meja yang berhampiran dengan hiasan kolam air buatan. Kolam air tersebut dipenuhi dengan ikan-ikan kecil berwarna-warni, yang kelihatan bebas berenang-renang mengelilingi kolam itu.

Tidak sampai 5 minit mereka memesan set makanan, pelayan tersebut datang kembali ke meja mereka.

“maafkan saya.. boleh saya tahu siapa encik Budi ??”, soal pelayan tersebut lembut.

“saya.. kenapa ye ??”, soal Budi kehairanan. Fikirnya ketika itu, bagaimana pula pelayan restoran tersebut tahu akan namanya.

“owh.. ada pesanan untuk encik Budi..”, balas pelayan itu sambil menitipkan sekeping kertas kecil yang dilipat ke atas meja Budi.

Budi mengucapkan terima kasih kepada pelayan tersebut. Setelah pelayan tersebut beredar dari meja mereka, barulah dia mengambil dan membuka kertas kecil tersebut.

Selesai membaca pesanan tersebut, wajahnya sedikit berubah kemerahan. Dia menoleh ke arah suatu sudut di dalam restoran tersebut.

“sekejap lagi aku datang balik...”, ujar Budi lantas bingkas bangun menuju ke sebuah meja yang berada di sudut hujung restoran tersebut.

Mata Amar hanya mengekori arah yang dituju oleh Budi saat itu. Kelihatan Budi duduk di sebuah meja yang ketika itu terdapat seorang lelaki berusia 50-an di situ.

“Budi apa khabar ??”, lelaki tersebut bertanya sebaik Budi duduk di hadapannya.

“macam biasa je..”, jawab Budi acuh tak acuh.

“Datuk nie mengekor saya ke ??”, soal Budi semacam tak berpuas hati.

“salahkah kalau nak jumpa Budi sekejap ??”, soal lelaki tua itu kembali.

“tak ada salahnya pun... tapi, saya takut saya banyak mengambil masa Datuk pulak...”, sindir Budi tajam.

Lelaki itu hanya mengangguk perlahan.

“masa untuk Budi sentiasa ada, cuma Budi je yang tak mengizinkannya...”, balas lelaki tua itu lagi.

Budi lantas merenung tajam ke arah lelaki tua tersebut. Lelaki tua tersebut hanya senyum sinis.

“dengar kata Budi pengsan tempoh hari... Budi sakit ke ??”, soal lelaki tua itu cuba mengendur suasana ketika itu.

Budi menggelengkan kepalanya. Hatinya tertanya-tanya bagaimana lelaki tua itu tahu akan kejadian tempoh hari.

“saya okey je... macam biasa...”, ringkas jawapan Budi lantas bangun untuk meninggalkan meja tersebut.

“Datuk Faisal... i’m appreciate your concern about me... tapi, rasanya tak perlulah sampai pasang spy atau mengekor saya ke sana-sini okey... harap Datuk paham...”, bisik Budi di telinga lelaki tersebut. Kata-katanya, walaupun masih lembut, namun nada-nada ketidakpuasan hatinya tetap ditekankan di situ.

“assalamualaikum...”, ujar Budi, langsung meninggalkan lelaki tua yang bergelar Datuk untuk kembali ke meja Amar.

Sekembalinya Budi di meja mereka, Amar melihat kelibat lelaki tadi bangun dan beredar keluar.

“siapa tue Budi ??”, soal Amar ingin tahu.

“ahh.. abaikan jelah... bukan sesapa pun...”, jawab Budi selamba.

“dah-dah tue, jom makan... aku lapar nie...”, sambung Budi lagi.

Amar hanya mengangguk. Namun, fikirannya ligat memikirkan tentang lelaki tadi dan hubungannya dengan Budi, teman serumahnya.

“eh Budi, aku nak pergi toilet sekejap okey...”, Amar mencari helah dan bingkas bangun.

Budi mengangguk tanpa memandang ke arah Amar. Ketika itu, dia leka menghirup kuah Tom Yam yang masih panas.

Amar bergegas ke arah kawasan parkir kereta. Matanya menoleh ke kanan dan ke kiri untuk mencari kelibat lelaki tadi. Di sudut kawasan parkir kereta itu, dia nampak kelibat seorang lelaki berjalan menuju ke arah sebuah kereta hitam.

Amar berlari pantas untuk memintas lelaki tersebut dan lantas memegang bahunya dari belakang.

“maaf encik... saya nak tanya sikit...”, ujar Amar dari belakang lelaki tadi.

(kembali bersambung jika permintaan berterusan..)

Aidy Shahiezad:- maaflah sebab dah 3 minggu tak update kisah novel nie... dan sekarang, aku update panjang sket dari kebiasaannya... semoga korang enjoy k....

regards,

Saturday, November 27, 2010

Abstrak Liar Sebuah Perjudian..


acapkali hati tertanya, apa yang salah kali ini ??
minda separa sedar menerawang manja penuh persoalan, besar sangatkah dosa ??
benak jiwa gundah gulana terfikir seketika, apakah tak cukup layak aku seadanya ??

terasa diri terbiar hina berteka-teki sendiri..
dan terasa terkontang-kanting menyoal tapi tak pernah berjawapan... haih...

inilah rencah aneka rasa dari sisi sebuah kehidupan...
yang terkadang perlu contengan abstrak liar demi manfaat sebuah keseronokan...
kompleks, namun tetap ia sebuah perjudian maha agung untuk mencorak sebuah perjalanan....

perjudian... sigh..
sebuah kalimat yang tak pernah ada penghujung kepuasannya...

-------------------------------------------------

Aidy Shahiezad:- yang terlarang itu tetap sahaja godaan terindah dalam sisi kehidupan...

regards,

Thursday, November 18, 2010

Di Sebalik Sebuah Emansipasi Diri..


pertama kali aku tau kewujudan perkataan emansipasi dalam kamus Dewan Bahasa dan Pustaka Inggeris adalah bila mana si Mariah Carey pinjam sekejap perkataan tue untuk tajuk album dia, The Emancipation of Mimi... sebelum tue, sumpah aku tak pernah amek tau pun... al-maklum, perbendaharaan kata Inggeris aku adalah terbatas... ahaha...

okay, lupakan pasal Mariah Carey tue dulu sebab nie blog aku dan bukannya blog dia... kalau kau nak tau pasal Mariah Carey tue sangat, kau gie la kat website dia je... fair and square kan ?? huhuhu..

------------------------------------

Lurus

dalam menelusuri kehidupan seharian, aku mengaku yang aku cukup lurus... bukan lurus yang straight tue, tapi lurus yang bendul tue la... erkkk !! ehhh sekejap... sekejap... tapi, bukan la bermakna aku tak lurus plak kalau yang bab straight tue... haih... dah berbelit-belit dah kenyataan aku nie... hohoho... tapi siyesly, playing straight (lurus bendul) is simple and safe... cuma, bila mana kita lurus, dia datang sekali dengan pakej skema... betul kan ?? kan ??

Bengkok

cukup tak seronok sebenarnya, bila diri kita terkait sebagai skema.. aku ingat lagi, bila mana ada sorang blogger misteri bernama Jane (bila sebut nama kau, terus aku teringat akan hutang entry aku kat kau tue... hahaha..) pernah kata yang aku nie skema.. haih... tak bestnya la bunyinya... huhuhu... kalau ikutkan, imej lurus + skema tue dah lama aku cuba kikis sebenarnya... cuma tinggal saki-baki je lagi tue... tue pun orang still kata skema... adehh... i guess, playing bent is not enough kot... hohoho...

Simpang-Siur

bila mana kita cuba lari dari kenyataan lurus + skema secara total, nescaya ia akan bercampur-baur menjadi rojak.. hahaha... tapi, percaya atau tak, bila banyak simpang yang bersiur dalam meniti kehidupan seharian, hidup ini terasa seperti lebih kompleks... dan sebuah kehidupan yang kompleks, pastilah akan lebih banyak mencetuskan tragedi dan konflik yang kita sendiri tak terjangka..

being in complex degree of life is just making us more complicated to be understand by others, and also not to mention, it’s not safe at all... but, i like it so much !! kerana ia menandakan sebuah emansipasi kehidupan dari sisi yang berbeza dari sebelumnya... hahaha...

aiyark !! adakah aku telah menjadi mangsa sebuah kehidupan kompleks aku sendiri ??

------------------------------------

Aidy Shahiezad:- sesuatu yang indah itu adalah mimpi nyata kita untuk terus bertahan dari sebuah kehidupan yang pelbagai darjah kompleksnya....

regards,

Wednesday, November 10, 2010

Ramah 'Ramas' Mesra Hati...

(ini bukan pic dalam kapal perang, tapi kapal terbang !!)

ini kesah semalam... aku cuba nak memecahkan buku Guinness ‘Kuala Lumpur’ Records dengan terus-terusan mengorder set Spicy Chicken McDeluxe untuk malam kedua berturut-turutnya. Tatkala berada kat kaunter order tue, sambil buat berpikir-pikir nak order apa malam tue, boleh plak gadis kaunter tue buat lawak bodoh sekejap dengan soklan macam nie,

“abang nak order apa ?? roti canai set besar, set kecik semua ada...”, gadis tue mengoffer dengan confident.

“ehhh... mcD ade menu baru ek ???", tanya aku lungu.. dia gelak kecik plak... hampeh, sah aku kena main....

Aku pun sekadar order set Spicy Chicken McDeluxe jelah.. bagi korang yang sememangnya tahu sejak azali bahawa aku tak makan pedas, jangan terkejut plak ek... ini cubaan bunuh diri sebenarnya... huhuhu....

tika aku nak blah dari kaunter tue, gadis tue cakap lagi,

“next time, kita akan keluarkan menu roti canai tue ek... time tue abang boleh order...”

wahhh... apakah ini cubaan beramah ‘ramas’ mesra dengan hati suci murni aku plak ?? sorry dik, tak makanlah cubaan murahan macam nie.. hohoho...

finally, aku jawab..

“adik, abang tak makan roti-roti macam tue... abang makan roti berkualiti je....”, dan terus aku blah dengan sepantas kilat sabung menyabung... kau bajet kau comel ek ?? amek kau... hahaha....

Aidy Shahiezad:- terasa macam nak turun karaoke jumaat nie.. ade sesapa yang berminat ?? bolehlah nyanyi lagu Ghazal Untuk Rabiah sesama nanti... huhuhu...

regards,

Sunday, November 7, 2010

Sebelum Terlewat .::. [Chapter 3 - Silap Langkah]


Chapter 3: Silap Langkah

“Gulp...”, dia berulang kali menelan air liurnya. Adrenalinnya yang mengalir pantas menghujam jantungnya cuba ditenangkan.

“err... Liya...”, Budi cuba bersuara.

“kenapa ?? kau takut ??”, Liya seakan mengejek.

Jarinya semakin ligat menari-nari di bahu Budi saat itu.

“err... kau nak buat apa sebenarnya nie ??”, soal Budi meminta kepastian.

Malam kala itu seakan tidak terasa kedinginannya lagi. Jernih-jernih halus peluh mula membasahi muka Budi.

“kau rasa ??”, Liya menyoal balas. Soalan balas yang seakan-akan cuba bermain teka-teki.

“aaa... aaa.. aku tak boleh la Liya... aku tak boleh...”, Budi cuba menepis jari-jari halus Liya daripada terus melingkari tubuhnya.

“kenapa tak boleh ?? aku tak cukup bagus untuk kau ??”, Liya menyoal lagi dengan nada yang sedikit mengejek.

“sebab aku... sebab... aku.. aku...”, suara Budi tergagap-gagap, seolah-olah ada batu besar yang tersekat di tengah saluran kerongkongnya.

“sebab apa ?!”, sergah Liya dengan nada yang sedikit keras.

“sebab aku tak mampu !!”, demikian jawapan yang terpacul keluar dari mulut Budi saat disergah suara keras Liya.

“kau gay ??”, Liya ketawa mengejek.

“ehh.. bukan.. bukan !!!”, sanggah Budi pantas.

“yelah tue... now I know...”, Liya semakin galak ketawa dengan sinis.

“don’t worry... I won’t tell others...”, Liya membisik perlahan ke telinga Budi sambil mula mengatur melangkah meninggalkan Budi yang agak keliru ketika itu.

Budi terduduk di muka pintu. Seluruh badannya basah oleh peluh yang mengalir sedari tadi lagi.

Di saat itu, temah serumahnya muncul keluar dari pintu lif yang bertentangan dengan rumah mereka.

Demi melihat keadaan Budi ketika itu, Amar terus meluru mendapatkan temannya itu.

“kenapa nie Budi ??”, soal Amar sambil dia cuba membangunkan Budi.

“err... takde papelah..”, Budi cuba untuk menyembunyikan apa yang berlaku sebentar tadi.

“abes yang basah segala bagai nie apa bendanya ?? kau nampak hantu ek ??”, soal Amar. Sempat lagi dia mengusik temannya itu.

“dah la.. aku gie mandi dulu..”, Budi cuba mematikan perbualannya dengan harapan Amar tidak bertanyakan apa-apa lagi mengenai kejadian tadi.

- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -

Selesai mandi, Budi sekadar menyantaikan diri di atas sofa sambil menonton televisyen. Habis semua channel yang ada ditukar silih berganti olehnya, namun tiada satu pun yang menarik minatnya untuk menonton.

Ketika itu, Amar datang ke ruang tamu tersebut dan mengunjukkan segelas mug berisi milo panas kepada Budi.

“ceritalah apa yang dah jadi tadi.. aku nampak Liya masa nak naik lif tadi..”

“tak mahulah...”, balas Budi ringkas.

“ala kau nie.. ceritalah kat aku, bukan luak pun air liur kau tue setakat cerita kat aku nie... please...”, Amar memujuk Budi lagi.

Budi menghela nafas panjang saat itu.

“tapi, kau mesti janji dengan aku.. kau jangan gelak lepas aku cerita nanti..”, ujar Budi.

“okey, okey... promise !!”, balas Amar pantas sambil tersengih girang.

Budi pun menceritakan sedari awal apa yang berlaku tadi. Amar dengan khusyuk mendengar sahaja cerita Budi saat itu.

Usai mendengar cerita Budi, Amar tergelak besar.

“oit.. kan kau dah janji tak gelak tadi...”, protes Budi akan tindakan Amar kala itu.

“ala... sorry weyh, sorry sangat... aku tak boleh nak tahan... kelakar sangatlah...”, jawab Amar sambil cuba untuk mengawal gelaknya.

“abes tue, kau mengakulah kat si Liya tue yang kau gay ??”, soal Amar. Dia gelak lagi.

“woi... kau gila ke ?? mana ada aku cakap aku gay la bodoh...”, marah Budi. Dia mengetap-ngetapkan giginya sambil mengawal amarahnya.

“okey, okey... kalau kau tak cakap pun, aku sure dia dah ingat kau macam tue...”, terang Amar lagi.

“consider problem darah gemuruh kau dengan perempuan yang tak sudah-sudah tue, aku gerenti dia memang dah anggap kau laki macam tue... kan ??”, sambung Amar menyimpulkan konklusi ketika itu.

“ehh... kau jangan macam-macam...”, Budi cuba untuk menidakkan kesimpulan yang dibuat temannya itu.

“alang-alang dia dah anggap macam tue, apa kata kau jadi jelah macam apa yang dia anggap tue... kan senang...”, selamba Amar mengusulkan.

Budi mengerling tajam ke arah Amar. Amar hanya tersengih mengejek.

“kau pun dah memang cukup ciri-ciri nak jadi macam...”

Bukkk !!!

Belum sempat Amar menghabiskan percakapannya, sebuah bantal kecil melayang, tepat mengenai mukanya.

“weyh !! apa nie ??”, protes Amar.

“kau jangan nak mengada-ngada okey...”, jawab Budi. Tona mukanya kelihatan merah kala itu.

Budi mengangkat kaki, lantas melangkah laju menuju ke biliknya.

“dah la.. aku ngantuk, nak tido...”, pantas Budi mematikan bicara.

Amar masih tergelak kecil melihat telatah temannya saat itu.

- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -

Hari itu hari minggu. Pagi itu, Budi bersiap awal kerana dia mempunyai latihan rutin persembahan bersama-sama beberapa orang rakannya. Latihan ini adalah rutin hari minggunya di kolej.

Saat menjejak kakinya melangkah masuk ke dalam studio latihan, kelihatan Aidil dan Kiki telah sedia sampai. Masing-masing sedang berbual kosong sambil menantikan kehadiran teman-teman yang lain.

Tidak lama kemudian, Razif dan Farah pula tiba bersama-sama. Budi sekadar menjeling ke arah Farah yang baru tiba itu. Farah yang menyedari jelingan tajam Budi saat itu hanya mendiamkan diri.

“okey guys.. jom mulakan latihan...”, teriak Aidil.

Semua mengambil tempat masing-masing ketika itu. Aidil bersama gitar bassnya, Kiki bersama keyboard, Razif di posisi drum dan Farah sebagai penyanyi vokal. Budi pula bertindak selaku pemain gitar lead dan turut memainkan peranan penyanyi vokal juga.

“kita mulakan dengan lagu Pujaanku, okey ??”, usul Budi sambil membetulkan tali gitarnya.

Masing-masing mengangguk setuju. Perlahan-lahan, muzik mula dimainkan.

Andaikan malam tiada pernah kan berakhir
Setiap ku bersamamu mungkin tak berhujung
Betapa rindu ini tak pernah mati
Kekasih hatiku hanyalah engkau

Saat mulut manismu memanggil namaku
Hatiku pun bergetar bagai terserang rindu
Betapa aku menyanjungi dirimu
Buta mata dan hati untuk yang lain

Memetik gitar menyanyi syair yang tulus
Persembahan kalbuku
Nantikan dikau di tidur lelapku
Pujaanku

Burung berkicau tanda setia pada pagi
Ku dengan engkau tak bisa dipisahkan lagi
Jantungku kau mintapun kan ku berikan
Betapa dalamnya cinta untukmu

Farah dan Budi cuba membawakan lagu tersebut dengan sepenuh penghayatan mungkin. Ketika irama lagu mula memasuki frasa rangkap ulangan, pandangan mata Budi menjadi sedikit kabur dan perlahan-lahan gelap. Dia cuba untuk bertahan, namun gagal.

Budi rebah secara mengejut !!

(bersambung lagi jika ada permintaan)

Aidy Shahiezad:- aku tak pasti, adakah korang mampu menerima jalan cerita sebegini ?? tapi, aku tetap nekad untuk gamble !! uhuks...

regards,

Wednesday, November 3, 2010

Metafora Sang Ikan !!


status Yahoo Messenger (YM) aku hari nie,

“ikan, kalau dah lama-lama sangat dibela dalam akuarium jadi tak sedap nak dimakan... so, kena la selalu cari stok ikan baru yang lebih segar..”

adakah aku bercerita tentang anak ikan ??
atau mungkinkah aku sekadar meminjamkan metafora ikan sebagai galang-ganti kaitan dalam kehidupan ?? haih.. kesian sungguh pada ikan yang tak bersalah di situ...



kenapa mesti ikan ?? dan bukan ayam, itik, atau arnab yang dijadikan perumpamaan ?? seriously, aku sendiri pun takde jawapan konkrit tentang itu... naluri hati aku kuat menjustifikasi bahawa penggunaan metafora ikan di situ adalah lebih tepat... ahaha...

dah menjadi resam dunia kot, bila kita memilih ikan kat pasar, mesti kena belek-belek, kena tunjal-tunjal sket ikan tue dulu semata-mata nak check isi dalam dia, then barulah boleh decide sama ada nak beli ke tak ikan tue... kan ?? kan ??

jadi, ikan tak bolehlah complaint lebih-lebih lepas nie sebab dah memang sejak azali teradaptasi cara yang sebegitu... bila masih elok dan segar, dijaga dan disimpan sebaiknya... bila mana busuk dan menjengkelkan, boleh campak terus ke dalam tong sampah !! hehehe...

-------------------------------------------------

Aidy Shahiezad:- metafora ikan ini sekadar metafora ringan-ringan sahaja... andai ada yang terasa, telan saja air liur sendiri okey... ahaks..

regards,

Faithful Followers

Blog Walking

♥ SILA TINGGALKAN JEJAK KORANG DI SINI.. ♥
Insya-Allah, aku akan rajin2kan diri follow dan blogwalking korang nanti...
♥ THANKS !! ♥
-------------------------------

Network Blogs