Showing posts with label Mini Novel. Show all posts
Showing posts with label Mini Novel. Show all posts

Sunday, November 28, 2010

Sebelum Terlewat .::. [Chapter 4 - Kepada Hati Itu]


Chapter 4: Kepada Hati Itu

Part I

Deru angin berhembus lembut ketika itu. Budi membuka matanya dan menarik nafas panjang. Dia mendepakan kedua tangannya sambil menikmati dan menghirup udara segar laut di hadapannya.

“Budi !!!”, suara meneriak namanya sayup-sayup kedengaran di sebalik bunyi ombak yang kuat menderu.

Dia menoleh. Sesusuk tubuh anak kecil berlari-lari anak sambil melambai-lambai ke arahnya. Dia tersenyum.

“Budi....”, anak kecil itu memanggil namanya lagi saat menghampiri Budi. Tercungap-cungap nafasnya ketika itu.

“kenapa berlari tak cukup tanah nie ??”, soal Budi.

“tengok nie.. cantik tak ??”, soal anak kecil itu manja. Tangannya menunjukkan kulit cengkerang berwarna putih kepada Budi.

Budi hanya sekadar mengangguk.

“nie untuk Budi...”, tangannya mengunjukkan kulit cengkerang dan diletakkan di atas tapak tangan Budi.

“terima kasih sayang..”, ucap Budi lantas mengucup dahi anak kecil itu.

Anak kecil itu tersengih manja. Kemudiannya, dia berlari menuju ke arah air laut yang memancar-mancar kejernihannya dek sinaran sang matahari terik.

“jom main air..”, ajak anak kecil itu sambil melambai-lambaikan tangannya.

Budi sekadar mengangguk, membalas dengan sebuah senyuman. Fikirannya menerawang jauh ke laut lepas.

“Budi !!!”, kedengaran suara anak kecil itu berteriak...

“Budi !!!...”

- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -

“Budi !! Budi !!..”, namanya diteriak lagi.

Terasa pipinya seperti ditampar-tampar lembut. Dia membuka kelopak matanya perlahan-lahan. Matanya meliar memandang sekeliling. Tiada lagi kelibat anak kecil itu atau deru ombak menemaninya saat itu.

“dah sedar pun... are you okay Budi ??”, soal Farah kepadanya.

Budi sekadar mengangguk lemah. Kepalanya terasa berdenyut-denyut ketika itu. Dia cuba untuk bangun sambil dibantu oleh Aidil dan Kiki.

“apa dah jadi bro ?”, soal Aidil pula.

Budi menggeleng-gelengkan kepalanya sahaja.

“okay ke tak nie ??”, soal Razif pula.

“okay.. aku rasa okey sikit dah..”, balas Budi ringkas.

“korang pergi hantar Budi balik dulu.. lain kali je kita sambung practice kita...”, arah Farah kepada yang lain.

Masing-masing mengangguk setuju.

- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -

Usai dihantar pulang oleh Aidil dan Kiki tengah hari tadi, Budi terus merebahkan tubuhnya di katil. Sedar tak sedar, dia terlelap terus. Menjelang senja barulah dia terjaga.

Setelah mandi, barulah badannya terasa segar sedikit. Budi menoleh sekeliling, kelibat Amar tidak dilihatnya langsung.

“mungkin dia keluar kot..”, fikir Budi lagi.

Dia hanya menghabiskan hari itu dengan menonton televisyen sahaja.

- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -

Part II

Hari itu, Budi tidak mempunyai apa-apa aktiviti luar. Untuk mengelakkan kebosanan, dia mencapai notebook, lantas terus menghidupkannya. Setelah notebook dihidupkan, dia membuka Yahoo Messenger miliknya.

Selesai login, tertera senarai rakan-rakannya yang saat itu sedang online. Matanya memerhatikan satu persatu senarai tersebut dan terhenti pada satu nama.

Budi lantas mengklik nama tersebut dan paparan skrin mesej keluar selang beberapa saat kemudian.

“assalamualaikum ??”
BUZZ..

Budi sabar menanti jawapan balas. Sambil itu, dia melayari beberapa laman web lain.

Lima minit berlalu dan masih tiada sebarang jawapan balas. Dia menyabarkan hatinya dan terus menyambung melayari laman web lagi.

Lima belas minit terus berlalu. Masih tidak berbalas. Riak muka Budi sedikit menunjukkan rasa hampa. Dia menghela nafas panjang. Skrin Yahoo Messenger tersebut ditutup.

- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -

Malam itu, Amar mengajak Budi untuk makan malam di sebuah restoran Tom Yam. Hati Budi agak panas apabila dipaksa memandu sehingga ke Bangi semata-mata untuk makan Tom Yam. Baginya, di sekitar rumah mereka pun ada banyak restoran sebegitu.

Namun, Amar beria-ia mengajaknya makan di situ juga atas alasan masakan di situ yang sedap. Budi sekadar menurut sahaja kemahuan teman serumahnya itu walaupun dia merasakan sedikit tidak puas hati.

Sesampainya di situ dan memarkir kereta Savvy miliknya di tempat yang dikhaskan oleh restoran tersebut, mereka terus memilih untuk duduk di meja yang berhampiran dengan hiasan kolam air buatan. Kolam air tersebut dipenuhi dengan ikan-ikan kecil berwarna-warni, yang kelihatan bebas berenang-renang mengelilingi kolam itu.

Tidak sampai 5 minit mereka memesan set makanan, pelayan tersebut datang kembali ke meja mereka.

“maafkan saya.. boleh saya tahu siapa encik Budi ??”, soal pelayan tersebut lembut.

“saya.. kenapa ye ??”, soal Budi kehairanan. Fikirnya ketika itu, bagaimana pula pelayan restoran tersebut tahu akan namanya.

“owh.. ada pesanan untuk encik Budi..”, balas pelayan itu sambil menitipkan sekeping kertas kecil yang dilipat ke atas meja Budi.

Budi mengucapkan terima kasih kepada pelayan tersebut. Setelah pelayan tersebut beredar dari meja mereka, barulah dia mengambil dan membuka kertas kecil tersebut.

Selesai membaca pesanan tersebut, wajahnya sedikit berubah kemerahan. Dia menoleh ke arah suatu sudut di dalam restoran tersebut.

“sekejap lagi aku datang balik...”, ujar Budi lantas bingkas bangun menuju ke sebuah meja yang berada di sudut hujung restoran tersebut.

Mata Amar hanya mengekori arah yang dituju oleh Budi saat itu. Kelihatan Budi duduk di sebuah meja yang ketika itu terdapat seorang lelaki berusia 50-an di situ.

“Budi apa khabar ??”, lelaki tersebut bertanya sebaik Budi duduk di hadapannya.

“macam biasa je..”, jawab Budi acuh tak acuh.

“Datuk nie mengekor saya ke ??”, soal Budi semacam tak berpuas hati.

“salahkah kalau nak jumpa Budi sekejap ??”, soal lelaki tua itu kembali.

“tak ada salahnya pun... tapi, saya takut saya banyak mengambil masa Datuk pulak...”, sindir Budi tajam.

Lelaki itu hanya mengangguk perlahan.

“masa untuk Budi sentiasa ada, cuma Budi je yang tak mengizinkannya...”, balas lelaki tua itu lagi.

Budi lantas merenung tajam ke arah lelaki tua tersebut. Lelaki tua tersebut hanya senyum sinis.

“dengar kata Budi pengsan tempoh hari... Budi sakit ke ??”, soal lelaki tua itu cuba mengendur suasana ketika itu.

Budi menggelengkan kepalanya. Hatinya tertanya-tanya bagaimana lelaki tua itu tahu akan kejadian tempoh hari.

“saya okey je... macam biasa...”, ringkas jawapan Budi lantas bangun untuk meninggalkan meja tersebut.

“Datuk Faisal... i’m appreciate your concern about me... tapi, rasanya tak perlulah sampai pasang spy atau mengekor saya ke sana-sini okey... harap Datuk paham...”, bisik Budi di telinga lelaki tersebut. Kata-katanya, walaupun masih lembut, namun nada-nada ketidakpuasan hatinya tetap ditekankan di situ.

“assalamualaikum...”, ujar Budi, langsung meninggalkan lelaki tua yang bergelar Datuk untuk kembali ke meja Amar.

Sekembalinya Budi di meja mereka, Amar melihat kelibat lelaki tadi bangun dan beredar keluar.

“siapa tue Budi ??”, soal Amar ingin tahu.

“ahh.. abaikan jelah... bukan sesapa pun...”, jawab Budi selamba.

“dah-dah tue, jom makan... aku lapar nie...”, sambung Budi lagi.

Amar hanya mengangguk. Namun, fikirannya ligat memikirkan tentang lelaki tadi dan hubungannya dengan Budi, teman serumahnya.

“eh Budi, aku nak pergi toilet sekejap okey...”, Amar mencari helah dan bingkas bangun.

Budi mengangguk tanpa memandang ke arah Amar. Ketika itu, dia leka menghirup kuah Tom Yam yang masih panas.

Amar bergegas ke arah kawasan parkir kereta. Matanya menoleh ke kanan dan ke kiri untuk mencari kelibat lelaki tadi. Di sudut kawasan parkir kereta itu, dia nampak kelibat seorang lelaki berjalan menuju ke arah sebuah kereta hitam.

Amar berlari pantas untuk memintas lelaki tersebut dan lantas memegang bahunya dari belakang.

“maaf encik... saya nak tanya sikit...”, ujar Amar dari belakang lelaki tadi.

(kembali bersambung jika permintaan berterusan..)

Aidy Shahiezad:- maaflah sebab dah 3 minggu tak update kisah novel nie... dan sekarang, aku update panjang sket dari kebiasaannya... semoga korang enjoy k....

regards,

Sunday, November 7, 2010

Sebelum Terlewat .::. [Chapter 3 - Silap Langkah]


Chapter 3: Silap Langkah

“Gulp...”, dia berulang kali menelan air liurnya. Adrenalinnya yang mengalir pantas menghujam jantungnya cuba ditenangkan.

“err... Liya...”, Budi cuba bersuara.

“kenapa ?? kau takut ??”, Liya seakan mengejek.

Jarinya semakin ligat menari-nari di bahu Budi saat itu.

“err... kau nak buat apa sebenarnya nie ??”, soal Budi meminta kepastian.

Malam kala itu seakan tidak terasa kedinginannya lagi. Jernih-jernih halus peluh mula membasahi muka Budi.

“kau rasa ??”, Liya menyoal balas. Soalan balas yang seakan-akan cuba bermain teka-teki.

“aaa... aaa.. aku tak boleh la Liya... aku tak boleh...”, Budi cuba menepis jari-jari halus Liya daripada terus melingkari tubuhnya.

“kenapa tak boleh ?? aku tak cukup bagus untuk kau ??”, Liya menyoal lagi dengan nada yang sedikit mengejek.

“sebab aku... sebab... aku.. aku...”, suara Budi tergagap-gagap, seolah-olah ada batu besar yang tersekat di tengah saluran kerongkongnya.

“sebab apa ?!”, sergah Liya dengan nada yang sedikit keras.

“sebab aku tak mampu !!”, demikian jawapan yang terpacul keluar dari mulut Budi saat disergah suara keras Liya.

“kau gay ??”, Liya ketawa mengejek.

“ehh.. bukan.. bukan !!!”, sanggah Budi pantas.

“yelah tue... now I know...”, Liya semakin galak ketawa dengan sinis.

“don’t worry... I won’t tell others...”, Liya membisik perlahan ke telinga Budi sambil mula mengatur melangkah meninggalkan Budi yang agak keliru ketika itu.

Budi terduduk di muka pintu. Seluruh badannya basah oleh peluh yang mengalir sedari tadi lagi.

Di saat itu, temah serumahnya muncul keluar dari pintu lif yang bertentangan dengan rumah mereka.

Demi melihat keadaan Budi ketika itu, Amar terus meluru mendapatkan temannya itu.

“kenapa nie Budi ??”, soal Amar sambil dia cuba membangunkan Budi.

“err... takde papelah..”, Budi cuba untuk menyembunyikan apa yang berlaku sebentar tadi.

“abes yang basah segala bagai nie apa bendanya ?? kau nampak hantu ek ??”, soal Amar. Sempat lagi dia mengusik temannya itu.

“dah la.. aku gie mandi dulu..”, Budi cuba mematikan perbualannya dengan harapan Amar tidak bertanyakan apa-apa lagi mengenai kejadian tadi.

- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -

Selesai mandi, Budi sekadar menyantaikan diri di atas sofa sambil menonton televisyen. Habis semua channel yang ada ditukar silih berganti olehnya, namun tiada satu pun yang menarik minatnya untuk menonton.

Ketika itu, Amar datang ke ruang tamu tersebut dan mengunjukkan segelas mug berisi milo panas kepada Budi.

“ceritalah apa yang dah jadi tadi.. aku nampak Liya masa nak naik lif tadi..”

“tak mahulah...”, balas Budi ringkas.

“ala kau nie.. ceritalah kat aku, bukan luak pun air liur kau tue setakat cerita kat aku nie... please...”, Amar memujuk Budi lagi.

Budi menghela nafas panjang saat itu.

“tapi, kau mesti janji dengan aku.. kau jangan gelak lepas aku cerita nanti..”, ujar Budi.

“okey, okey... promise !!”, balas Amar pantas sambil tersengih girang.

Budi pun menceritakan sedari awal apa yang berlaku tadi. Amar dengan khusyuk mendengar sahaja cerita Budi saat itu.

Usai mendengar cerita Budi, Amar tergelak besar.

“oit.. kan kau dah janji tak gelak tadi...”, protes Budi akan tindakan Amar kala itu.

“ala... sorry weyh, sorry sangat... aku tak boleh nak tahan... kelakar sangatlah...”, jawab Amar sambil cuba untuk mengawal gelaknya.

“abes tue, kau mengakulah kat si Liya tue yang kau gay ??”, soal Amar. Dia gelak lagi.

“woi... kau gila ke ?? mana ada aku cakap aku gay la bodoh...”, marah Budi. Dia mengetap-ngetapkan giginya sambil mengawal amarahnya.

“okey, okey... kalau kau tak cakap pun, aku sure dia dah ingat kau macam tue...”, terang Amar lagi.

“consider problem darah gemuruh kau dengan perempuan yang tak sudah-sudah tue, aku gerenti dia memang dah anggap kau laki macam tue... kan ??”, sambung Amar menyimpulkan konklusi ketika itu.

“ehh... kau jangan macam-macam...”, Budi cuba untuk menidakkan kesimpulan yang dibuat temannya itu.

“alang-alang dia dah anggap macam tue, apa kata kau jadi jelah macam apa yang dia anggap tue... kan senang...”, selamba Amar mengusulkan.

Budi mengerling tajam ke arah Amar. Amar hanya tersengih mengejek.

“kau pun dah memang cukup ciri-ciri nak jadi macam...”

Bukkk !!!

Belum sempat Amar menghabiskan percakapannya, sebuah bantal kecil melayang, tepat mengenai mukanya.

“weyh !! apa nie ??”, protes Amar.

“kau jangan nak mengada-ngada okey...”, jawab Budi. Tona mukanya kelihatan merah kala itu.

Budi mengangkat kaki, lantas melangkah laju menuju ke biliknya.

“dah la.. aku ngantuk, nak tido...”, pantas Budi mematikan bicara.

Amar masih tergelak kecil melihat telatah temannya saat itu.

- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -

Hari itu hari minggu. Pagi itu, Budi bersiap awal kerana dia mempunyai latihan rutin persembahan bersama-sama beberapa orang rakannya. Latihan ini adalah rutin hari minggunya di kolej.

Saat menjejak kakinya melangkah masuk ke dalam studio latihan, kelihatan Aidil dan Kiki telah sedia sampai. Masing-masing sedang berbual kosong sambil menantikan kehadiran teman-teman yang lain.

Tidak lama kemudian, Razif dan Farah pula tiba bersama-sama. Budi sekadar menjeling ke arah Farah yang baru tiba itu. Farah yang menyedari jelingan tajam Budi saat itu hanya mendiamkan diri.

“okey guys.. jom mulakan latihan...”, teriak Aidil.

Semua mengambil tempat masing-masing ketika itu. Aidil bersama gitar bassnya, Kiki bersama keyboard, Razif di posisi drum dan Farah sebagai penyanyi vokal. Budi pula bertindak selaku pemain gitar lead dan turut memainkan peranan penyanyi vokal juga.

“kita mulakan dengan lagu Pujaanku, okey ??”, usul Budi sambil membetulkan tali gitarnya.

Masing-masing mengangguk setuju. Perlahan-lahan, muzik mula dimainkan.

Andaikan malam tiada pernah kan berakhir
Setiap ku bersamamu mungkin tak berhujung
Betapa rindu ini tak pernah mati
Kekasih hatiku hanyalah engkau

Saat mulut manismu memanggil namaku
Hatiku pun bergetar bagai terserang rindu
Betapa aku menyanjungi dirimu
Buta mata dan hati untuk yang lain

Memetik gitar menyanyi syair yang tulus
Persembahan kalbuku
Nantikan dikau di tidur lelapku
Pujaanku

Burung berkicau tanda setia pada pagi
Ku dengan engkau tak bisa dipisahkan lagi
Jantungku kau mintapun kan ku berikan
Betapa dalamnya cinta untukmu

Farah dan Budi cuba membawakan lagu tersebut dengan sepenuh penghayatan mungkin. Ketika irama lagu mula memasuki frasa rangkap ulangan, pandangan mata Budi menjadi sedikit kabur dan perlahan-lahan gelap. Dia cuba untuk bertahan, namun gagal.

Budi rebah secara mengejut !!

(bersambung lagi jika ada permintaan)

Aidy Shahiezad:- aku tak pasti, adakah korang mampu menerima jalan cerita sebegini ?? tapi, aku tetap nekad untuk gamble !! uhuks...

regards,

Tuesday, September 28, 2010

Sebelum Terlewat .::. [Chapter 2 - Lelaki Tua Itu]


Chapter 2: Lelaki Tua Itu

“Assalamualaikum Budi..”

Budi menoleh ke arah belakang. Demi melihat sahaja susuk tubuh wanita yang menyapanya, dia menghela nafas panjang. Berpakaian blouse merah di samping skirt labuh hitam, dia amat kenal wanita tersebut.

“Datuk ingin berjumpa Budi sekarang...”, sambung bicara wanita di dalam lingkungan umur 30-an itu.

“mana dia ??”, balas Budi endah tak endah sahaja.

“di dalam kereta di hujung sana..”, jawab wanita tersebut sambil menunjukkan isyarat ke arah hujung kawasan parkir kereta di situ.

Budi menoleh ke arah yang dimaksudkan oleh wanita tersebut. Langkahnya di atur lambat-lambat menuju ke arah sebuah kereta Mercedes Benz S Class berwarna hitam yang diparkir di bawah pohon rendang di situ.

“Assalamualaikum Datuk..”, ucap Budi setelah dia masuk ke dalam tempat duduk belakang kereta tersebut. Di sebelahnya, duduk seorang lelaki tua yang telah menjangkau umur lebih 50-an. Walaupun, uban-uban putih semakin menghiasi rambut lelaki tua itu, namun dia masih kelihatan tegap dan kuat.

“wa’alaikumsalam... Budi sihat ??”, soal lelaki tua itu.

“saya macam biasa je Datuk... ada apa hal Datuk nak jumpa saya nie ??”, Budi sekadar menjawab pendek, sambil melontarkan soalan tentang tujuan lelaki tua tersebut.

“salahkah kalau sekadar nak berjumpa Budi bertanya khabar ??”, soal lelaki tua tersebut.

“hurmm.. banyak betul masa Datuk ye nak jumpa saya saja-saja nie...”, balas Budi dalam nada sindiran tajam.

Wajah lelaki tua itu merona merah demi mendengarkan jawapan Budi, namun dia masih cuba untuk berlagak tenang biarpun sesekali Budi melakar raut wajah tidak senang terhadapnya.

“takpalah.. nie ada duit untuk belanja Budi, ambillah...”, lelaki tua itu menghulurkan beberapa keping not berwarna biru bernilai RM50 setiap satu.

Budi lantas mengalihkan pandangannya dan memandang tajam ke arah lelaki tua tersebut.

“saya tak perlukan duit Datuk pun... terima kasih jelah...”, sindir Budi selamba. Dia dengan pantas keluar dari kereta Mercedes Benz hitam tersebut dan mengatur langkah laju ke arah kereta Proton Savvy miliknya.

- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -

Jam menunjukkan pukul 11.00 malam saat itu, bila mana pintu rumah sewa Budi diketuk perlahan. Dia yang baru 10 minit menonton televisyen di atas sofa berkalih bangun ke arah pintu.

Pintu dibuka dan Budi sedikit terkejut dengan kehadiran tetamunya malam itu.

“kau nak apa malam-malam buta nie Liya ??”

“boleh aku masuk ??”, soal gadis bernama Liya itu.

“kau gila ke apa ?? dah tengah malam dah nie... karang macam-macam plak yang jadi nanti..”, nada suara Budi sedikit meninggi.

Liya sekadar ketawa kecil.

“kau takut ke Budi ??”, dia menyindir.

“kau nak apa sebenarnya Liya ??”, soal Budi meminta kepastian.

“nie hah, aku nak pulangkan buku Teori Fizik nie je...”, Liya lantas mengunjukkan sebuah buku tebal berwarna biru gelap.

“haih kau nie, pasal buku pun beriya datang malam-malam buta nie.. esok pagi tak boleh bagi ke ??”, Budi menyuarakan protes atas kedatangan Liya malam itu.

Liya sekadar menyengih. Suasana senyap seketika. Perlahan-lahan dia mendekati Budi yang ketika itu berdiri di muka pintu.

“Budi... serius kau tak mahu ajak aku masuk dalam dulu ??”, bisik Liya di telinga Budi. Tangannya sengaja diletakkan di atas bahu Budi.

Nafas Budi sedikit berubah menjadi laju.

“Gulp...”, dia berulang kali menelan air liurnya. Adrenalinnya yang mengalir pantas menghujam jantungnya cuba ditenangkan.

“err... Liya...”

(bersambung lagi lain kali...)

Aidy Shahiezad:- fuh.. lama betul, baru aku dapat nak post chapter 2 nie... huhu...

regards,

Sunday, August 29, 2010

Mini Novel: Sebelum Terlewat .::. [Chapter 1 - Introduksi]


Chapter 1: Introduksi

Suasana di Dewan Utama hingar-bingar saat itu. Di setiap sudut dewan, masing-masing galak bertukar-tukar cerita diselang-seli dengan tawa canda. Malam itu adalah malam apresiasi mahasiswa Kolej Almaputra. Acara tahunan itu, kebiasaannya bagi meraikan para mahasiswa dan mahasiswi Kolej Almaputra yang berada pada tahun terakhir pengajian mereka.

“Hadirin sekalian !!”, teriak suara moderator majlis memecahkan suasana di dalam Dewan Utama.

“Malam ini, kita akan dipersembahkan dengan sebuah persembahan istimewa. Berikan tepukan gemuruh untuk saudara Budi Haikal bin Hariz..”

Hadirin majlis menghalakan pandangan ke arah pentas utama. Lampu sorot perlahan-lahan menyinari ruang tengah pentas, memperlihatkan susuk tubuh seorang anak muda berusia awal 20-an yang tatkala itu tunduk memandang ke lantai pentas sambil kejap memegang gitar di tangannya. Tubuhnya diam terpaku tanpa menunjukkan sebarang reaksi kepada hadirin majlis yang menanti persembahannya. Sejurus kemudian, jarinya mula memetik gitar, mengalunkan sebuah irama muzik.

Semakin ku menyayangimu
Semakin kau menyakitiku
Semakin ku mencintaimu
Semakin kau menghancurkanku

Entah sampai kapan
Kau akan menyadarinya
Bahwa hanya diriku
Yang pantas ‘tuk memiliki diriku
Yang rela korbankan semuanya untukmu

Sampai kapanpun kau ‘kan ku cintai
Walau kau tak pernah membalas cintaku padamu
Walau apapun kau ‘kan ku sayangi
Setulus hatiku seumur hidupku ku mencintaimu

Takkan pernah bisa
Ku melupakanmu walau sekejap saja
Takkan pernah mampu
Menggantikanmu dalam seluruh hidupku


Penuh penghayatan dia menyampaikan lagu tersebut, seolah-olah dia di dalam dunianya sendiri tanpa mempedulikan audien di bawahnya. Hadirin majlis yang mendengarkan persembahan tersebut juga turut terpaku diam. Usai persembahan lagu tersebut, seisi dewan bertepuk tangan tanda terhibur dengan persembahan yang dibawakannya. Dia hanya memberikan isyarat tunduk hormat dan lantas terus meninggalkan pentas tanpa mengucapkan sepatah perkataan.

“Budi, nanti dulu...”, pengurus acara malam itu, Farah memanggil dia.

Langkah pantas Budi terhenti di sudut pintu keluar bilik persediaan itu. Farah berlari-lari anak mendapatkan dia. Farah memandang wajah Budi saat itu.

“Terima kasih Budi kerana masih menunaikan janji Budi... Farah tahu yang Budi masih marahkan Farah lagi...”, bicara Farah lembut.

“Sekurang-kurangnya aku masih menepati janji...”, jawapan yang terlontar dari mulut Budi seolah-olah menempelak Farah saat itu.

Farah menundukkan wajahnya.

“Farah tahu memang Farah bersalah... harap Budi maafkan Farah...”, perlahan sahaja Farah melafazkan permohonan maafnya kepada Budi.

“aku pergi dulu...”, Budi membalas, lantas mengatur langkah pantas keluar dari bilik persediaan itu, meninggalkan Farah termangu-mangu seorang diri.

Ketika Budi menghampiri kereta Proton Savvy miliknya, bahunya dipegang dari belakang.

“Assalamualaikum Budi...”

(bersambung jika ada permintaan...)

Aidy Shahiezad:- mencuba nasib sekali lagi dengan menulis mini novel kedua tahun ini.. harap korang menerima seadanya kisah "Sebelum Terlewat" nie.... :)

regards,

Friday, June 4, 2010

Mini Novel: Pertama Yang Terakhir (Episode 13 - Peperangan Hati)


Episode 13 – Peperangan Hati

Persoalan Nia semalam dibiarkan Iskandar tidak berjawab. Tindakan Iskandar hanya menyebabkan Nia lebih tertanya-tanya, namun wanita tersebut tidak pula memaksa Iskandar untuk menjelaskannya.

Hari ini Iskandar masuk awal ke pejabatnya. Sesampainya dia ke pejabat, dilihatnya Nia sedang khusyuk memerhatikan skrin komputernya.

morning Nia...”, sapa Iskandar ringkas.

Nia mengalihkan pandangannya seketika ke arah Iskandar. Iskandar hanya sekadar membalas dengan sebuah senyuman.

morning Isk...”, balas Nia kembali.

awal you sampai ye...”, Iskandar menyambung bicaranya.

hurm... terpaksa, elak traffic jam...”, Nia menjawab.

ehh.. you dah breakfast ke ?? jom, kita pekena roti canai ke...”, Iskandar mempelawa Nia untuk bersarapan pagi itu.

kat mana you nak breakfast nie ??”, soal Nia memastikan.

ala, KL Sentral je.. come on, i belanja you... kira welcoming breakfast la nie...”, Iskandar tersengih mengusik.

okay, jom la...”, setuju Nia lantas bangun dan menuju ke arah pintu keluar.

--------------------------------------------------------------

you tau tak Nia, roti canai kat sini antara yang paling sedap tau... susah nak cari kat KL nie...”, ujar Iskandar saat mereka tiba di sebuah restoran Melayu di situ.

iye ke ?? alah, roti canai je pun... mana-mana pun sama gak...”, balas Nia ringkas.

Iskandar memesan 2 keping roti canai dan 2 gelas milo panas untuk mereka berdua. Dalam pada itu, Nia pula mengambil tempat di bahagian luar kedai. Kelihatan suasana di KL Sentral pagi itu agak sibuk seperti kebiasaannya.

dah lama ke you kerja kat sini Isk ??”, soal Nia saat Iskandar menarik kerusi untuk duduk setelah selesai memesan di kaunter.

tak lama... adalah dalam 2 tahun mungkin...”, jawab Iskandar.

mungkin ??”, soal Nia lagi.

hahaha... I sendiri dah lost count dah...”, Iskandar membalas acuh tak acuh.

Diam. Perbualan mereka terhenti seketika saat makanan yang dipesan sampai.

haa... sedap tak roti canai dia ??”, Iskandar menyoal Nia ketika wanita itu mula menyuap masuk roti canai tersebut.

biasa je Isk... apa yang specialnya nie ??”, Nia cuba menagih kepastian daripada Iskandar.

sebab roti canai tue personal favorite I, mestilah sedap... in fact, semua yang berkaitan dengan benda yang I suka, mestilah sedap atau best..”, selamba sahaja Iskandar menjawab.

ehh, apa kaitan ??”, Nia memprotes.

takde kaitan apa-apa pun.. saja je nak bagitau you makanan favourite I nie hah....”, Iskandar menyambung lagi.

mengadalah you nie...”, pantas jari Nia mencubit bahu Iskandar.

ehh.. ehh... adoi.. adoi... sakitlah Nia...”, Iskandar meluahkan rasa sakitnya apabila dicubit kuat oleh Nia.

oopps... sorry, tak sengaja...”, gelak Nia.

Iskandar menjengilkan matanya ke arah Nia tanda tidak puas hati.

you nie kan Isk, nampak je macho... tapi, cubit sikit camtue pun dah tak tahan... kalah perempuan...”, komen Nia. Sengaja dia membakar perasaan Iskandar saat itu.

I macho ek ?? nasib baik you perasan kan...”, Iskandar menjawab sambil tersenyum puas.

Nia menarik muka masam mendengarkan kata-kata Iskandar itu. Dia hanya sekadar mengeleng-gelengkan kepalanya sahaja.

--------------------------------------------------------------

Usai bersarapan di KL Sentral, mereka berdua memutuskan untuk terus sahaja kembali ke pejabat. Ketika hendak melintas jalan menuju ke Sooka Sentral semula, langkah mereka terhenti oleh lampu isyarat merah pejalan kaki.

Saat lampu isyarat bertukar hijau untuk pejalan kaki, tangan Nia dicapai dari belakang. Tidak sempat dia menoleh ke belakang, tangannya ditarik terus ke hadapan untuk melintasi jalan tersebut.

ehhh ??”, tersekat suara Nia.

Iskandar dengan selamba menarik tangannya dan memimpinnya melintas jalan tersebut.

Setibanya di seberang jalan, Nia menarik semula tangan. Iskandar hanya memandang Nia dengan sebuah senyuman.

apesal you tarik tangan I Isk ??”, Nia tidak berpuas hati.

ehh.. tangan you ke ?? I ingatkan tangan siapalah tadi yang iIpimpin... kesian iItengok orang tue... macam teragak-agak je nak lintas jalan tadi...”, Iskandar selamba menjawab. Dia tersengih lagi.

mana ada I teragak-agak tau... you nie saja je kan...”, Nia memprotes lagi. Jarinya pantas mencubit Iskandar. Kali kedua pagi nie.

adoi.. adoi... sakitlah Nia..”, jerit kecil Iskandar smabil tangannya cuba menarik tangan Nia yang sedang mencubitnya lagi.

you tau tak, kalau macam nie lah selalu, mati kering I nanti... asyik kena cubit je kan...”, ulas Iskandar.

tak kesian ke buli orang macho yang tak bersalah macam I nie ??”, sambung Iskandar lagi.

Nia yang mendengar kata-kata Iskandar, sekadar membisu sahaja dan terus berlalu meninggalkan Iskandar menuju ke pintu lif. Malas dia untuk melayan Iskandar.

--------------------------------------------------------------

Hari itu berlalu seperti biasa. Jam saat itu menunjukkan waktu hampir menginjak pukul 7 malam. Nia masih khusyuk menghadap kerjanya. Iskandar yang turut berada di hadapannya ketika itu, turut sama khusyuk dengan kerjanya.

Isk... macam mana nak buat part nie ek ?? I takde idealah... pening dah pikir nie...”, ngomel Nia kepada Iskandar.

Iskandar yang sedang menyiapkan kertas kerjanya mengalihkan pandangannya ke arah Nia. Konsentrasi kerja terganggu seketika.

mintak tolong Isk... please...”, rayu Nia lagi.

Iskandar bingkas bangun dari kerusinya menuju ke arah meja Nia. Dari belakang Nia, dia berdiri.

part yang mana ??”, Iskandar menyoal.

yang nie..”, jawab Nia sambil menunjukkan ke arah skrin komputernya.

Iskandar mencapai sekeping kertas A4 putih dari printer yang berada di sebelah meja Nia dan mula melakar sesuatu di atas kertas tersebut.

you buatlah macam nie...”, ujar Iskandar sambil menyerahkan lakaran yang dilukisnya sebentar tadi.

sekejap ek, I try...”, balas Nia.

eh, salah tue...”, Iskandar menegur.

Tangannya pantas mencapai mouse komputer yang sedang dimainkan oleh tangan Nia saat itu. Dia memimpin tangan Nia perlahan-lahan untuk melakar draft lukisannya tadi ke dalam komputer.

you patutnya kena buat macam nie Nia...”, Iskandar memberikan tunjuk ajarnya.

Tangan Iskandar masih lagi memegang tangan Nia, dan memimpin arah pergerakan mouse tersebut. Keadaan sebegitu menyebabkan kedudukan badan Iskandar merapat di belakang Nia yang sedang duduk ketika itu.

Tanpa sedar, tangan kiri Iskandar memegang bahu Nia demi mengimbangi kedudukannya yang berada di belakang Nia. Tangan kanannya pula masih memimpin tangan Nia memainkan pergerakan mouse komputer tersebut.

Nia yang menyedari keadaan itu sekadar diam tidak membantah. Gelojak jiwanya berperang hebat saat itu.

ehh... sorry Nia.. I tak sengaja...”, ujar Iskandar apabila menyedari perbuatannya. Kedua belah tangannya pantas ditarik ke belakang.

Nia sekadar membalas dengan sebuah senyuman. Senyuman tawar yang dipaksakan !!

(bersambung...)

regards,

Sunday, May 23, 2010

Mini Novel: Pertama Yang Terakhir (Episode 12 - Nia Karina)


Episode 12 – Nia Karina

Malam itu, hujan turun lebat membasahi bumi Kuala Lumpur. Iskandar yang ketika itu baru pulang dari pejabatnya memandu penuh berhati-hati. Di tepian jalan, kelihatan khalayak manusia yang berlumba-lumba, berlari-lari mencari perlindungan sementara daripada terus dibasahi hujan yang semakin menggila lebatnya.

Saat mengharungi kesesakan jalan raya di dalam hujan lebat itu, barulah Iskandar terasa lapar. Perutnya berkeroncong minta diisi. Iskandar mengubah destinasi tujuannya menuju ke restoran McD kebiasaannya. Telah hampir 3 minggu dia tidak menjejakkan kakinya ke situ, sejak dia terbang ke Auckland ketika Jane sakit dahulu.

15 minit kemudian, Iskandar memarkir keretanya di perkarangan restoran McD. Lebat hujan ketika itu telah sedikit mereda. Dia lantas berlari-lari anak menuju ke arah pintu utama restoran.

Usai pintu ditolaknya, kelibat Suhayati direnungnya dari jauh. Keadaan kaunter ketika itu lengang, tiada pelanggan. Iskandar perlahan-perlahan menuju ke arah kaunter yang dijaga Suhayati.

assalamualaikum...”, sapa Iskandar.

Demi mendengar suara yang menyapanya, Suhayati yang ketika itu sedang mengemas kabinet di bawah kaunter mendongak, lantas berpaling ke arah susuk tubuh di depan. Gadis itu sedikit terperanjat.

Iskandar...”, pendek bicara gadis itu. Dari riak wajahnya, nyata dia masih terkejut dengan kehadiran Iskandar waktu itu.

salam Isk masih tak berjawab...”, tegur Iskandar saat itu.

err.. maafkan Su.. waalaikumsalam...”, balas Suhayati setelah menyedari kealpaannya sebentar tadi.

Su apa khabar ?”, soal Iskandar lanjut.

alhamdulillah.. Su baik je... Isk pulak ?? lama menghilang ??”, Suhayati membalas soalan Iskandar.

Isk baik-baik je... oh ye, lama Isk tak berbual dengan Su... kita keluar lepas Su habis kerja malam nanti.. okey ??”, Iskandar mengemukan cadangannya.

err... pasal tue, Su minta maaf sangat... Su tak boleh keluar dengan Isk lagi..”, lambat-lambat Su memberikan jawapannya.

eh, kenapa pulak ??”, Iskandar kehairanan.

sebab nanti takut ada yang cemburu..”, Su menerangkan ringkas.

Iskandar pantas menangkap maksud tersirat di sebalik jawapan Suhayati itu. Dia mengeluh panjang.

owh... jadi, Isk terlambat la nie ??”, ujar Iskandar sambil cuba mengukir senyuman. Sebuah senyuman yang dipaksakan.

Suhayati mengangguk perlahan.

okey.. no luck...”, Iskandar menenangkan rasa hatinya sendiri.

tapi, kita still kawan kan Su ??”, soal Iskandar lagi.

yup, tapi tak boleh rapat sangat...”, jawab Suhayati. Dia tersenyum.

okey, paham...”, Iskandar mengangguk tanda memahami situasi gadis tersebut.

Diam. Masing-masing melayani perasaan yang bersarang di jiwa.

kita mungkin tak dapat keluar bersama, tapi Su masih boleh ambik order Isk kan ??”, Iskandar cuba meredakan suasana yang sedikit senyap itu. Dia tersengih sumbang.

Gadis itu mengangguk. Pesanan Iskandar diambilnya. 5 minit kemudian, dia keluar dari restoran makanan segera itu sambil membimbit bungkusan makanan yang dipesannya.

Hati Iskandar kecewa lagi.

--------------------------------------------------------------

Pagi itu, seperti kebiasaannya Iskandar bersiap-siap untuk ke tempat kerja. Tepat jam 7.30 pagi, enjin kereta dihidupkan. Setelah 10 minit membiarkan enjin keretanya panas, Iskandar memandu menuju ke arah Sooka Sentral.

20 minit memandu membelah lalu lintas yang sedikit sesak pagi itu, kereta yang dipandu Iskandar tiba ke destinasi tujuan. Dia mencari parkir di tempat yang masih kosong.

Ketika Iskandar melangkah masuk ke pejabat, jarum jam baru saja menginjak ke pukul 8.20 pagi. Setelah duduk ditempatnya, punat “ON” pada komputer mejanya ditekan dan Iskandar memulakan kerja rutin hariannya seperti hari-hari sebelumnya. Timbunan fail kertas kerja memenuhi ruang meja kerjanya !!

Isk... bos panggil !!”, Najihah, setiausaha kepada Mr David memanggilnya.

Iskandar menoleh ke belakang dan memandang Najihah.

sekarang ke ??”, soal Iskandar untuk memastikan.

sekaranglah, takkan esok pulak kot...”, Najihah selamba menjawab.

Mata Iskandar mengerling tajam ke arah Najihah tatkala dia bangun dari kerusinya. Najihah hampir tergelak melihat raut muka Iskandar yang serius mengerling ke arahnya.

tok.. tok.. tok..”, pintu diketuk.

come in..”, suara dari dalam bilik membenarkan Iskandar masuk ke dalam bilik tersebut.

Setelah masuk, Iskandar menyedari akan kehadiran seorang wanita yang ketika itu duduk berhadapan dengan bosnya, Mr David. Wajahnya tidak kelihatan oleh kerana kedudukannya yang membelakangkan Iskandar.

hah.. Iskandar, come in... please sit down..”, pelawa Mr David.

Perlahan-lahan Iskandar melangkah menuju ke arah kerusi kosong yang berada bersebelahan dengan kerusi yang diduduki oleh wanita tersebut. Iskandar menjeling ke arah wajah wanita di sebelahnya ketika menarik kerusi untuk duduk. Wanita membalas jelingannya dengan sebuah senyuman.

Demi melihat saja wajah wanita tersebut, riak muka Iskandar berubah. Nyata dia terperanjat besar.

Jane ??”, ucap Iskandar seakan tidak percaya.

Saat itu juga, dia kehilangan imbangan badan, lupa bahawa dia belum menarik kerusi sepenuhnya. Dia tergolek jatuh saat menghenyakkan badannya !!

Wanita di hadapannya tergelak kecil demi melihat kekalutan Iskandar ketika itu. Mr David pula hanya mengeleng-gelengkan kepalanya.

you okay ke nie ??”, wanita itu bersuara.

yes.. i’m okay... no worries...”, Iskandar bingkas bangun sambil mengipas seluarnya. Dia cuba berlagak biasa sahaja.

Iskandar, perkenalkan.. Nia Karina...”, ujar Mr David kepadanya.

she will assist you starting from today...”, sambung Mr David lagi, menerangkan peranan Nia kepada Iskandar.

Wanita tersebut menghulurkan tangan untuk bersalam.

Nia Karina Hashim... just call me Nia...”, ujar Nia memulakan bicara.

Iskandar Hakimi.. panggil Isk je...” balas Iskandar. Teragak-agak dia menyambut salam Nia ketika itu. Dia cuba menyembunyikan kekalutan hatinya dengan senyuman. Sebuah senyuman yang ternyata hambar.

okey Iskandar, you boleh tunjukkan Nia all around our office, then you explain tentang kerja-kerja dia sekali okay ??”, Mr David memberikan arahan kepada Iskandar.

orait boss..”, Iskandar mengangguk setuju.

--------------------------------------------------------------

Pagi itu, Iskandar menunjukkan keseluruhan kawasan pejabatnya kepada Nia. Nia juga diperkenalkan kepada semua rakan-rakan sepejabat yang lain.

Setelah itu, Iskandar menunjukkan ruang kerja Nia. Ruang kerja Nia yang terletak berhadapan dengan ruang kerja Iskandar akan memudahkan mereka untuk berkomunikasi dan berbincang mengenai hal kerja kelak.

Iskandar yang duduk di mejanya kembali menghadap skrin komputernya. Niat di hatinya untuk menyambung kerja-kerja yang tertangguh sebelum itu. Sesekali matanya liar mengerling ke arah Nia yang sedang khusyuk membaca isi kandungan sebuah fail kerja.

raut wajah Nia Karina saling tak tumpah serupa dengan Jane...”, getus hati kecil Iskandar.

Dia merenung lama ke arah Nia, memerhatikan tingkah laku wanita tersebut. Nia yang menyedari dirinya diperhatikan memalingkan mukanya ke arah Iskandar. Menyedari perkara itu, Iskandar cepat-cepat melarikan pandangannya ke arah skrin komputer semula.

Tidak lama, mata Iskandar tertancap semula ke arah Nia. Sebatang pen dimain-mainkan di jarinya. Nia memandang Iskandar sekali lagi. Kali ini, Iskandar tidak sempat mengelak. Kekalutannya menyebabkan pen yang dimainnya tercampak ke lantai.

Isk.. you asyik pandang I je dari tadi.. why ??”, soal Nia meminta penjelasan.

eh.. mana ada...”, acuh tak acuh Iskandar menjawab.

dalam bilik bos tadi pun, you pandang I pun macam you nampak hantu je.. kenapa nie ??”, Nia menyoal lagi.

takde apa-apalah.. don’t worry ok...”, Iskandar membalas sambil tersenyum.

tadi, you ada sebut nama Jane bila nampak I first time.. siapa Jane ??”, Nia menebak Iskandar dengan soalan yang sememangnya cuba dielakkan Iskandar.

Raut senyuman Iskandar bertukar mendadak menjadi kelat.

(bersambung...)

regards,

Thursday, May 13, 2010

Terpukul, Terhenyak Gara-Gara Penulisan Novel... Tak Perlu Kot...

(gambar agak 18sx di situ... sila buat-buat tak nampak okies..)

pepagi buta dah nie... tapi aku masih tak lena mata gara-gara semangat Piala Thomas malam tadi.. hahaha... nama pun rakyat Malaysia, mesti ada semangat 1Malaysia tue... hohoho... neway, bicara aku kali nie tentang novelku... ye, bosan tak bosan, korang kena baca gak... aku tak kira... ahaha... *ini sudah kes memaksa namanya.... huhuhu...*

lately, banyak gak yang mengkritik kelainan dan kejutan yang aku cuba tampilkan dalam setiap entri episode baru tue... dan kadang-kadang, korang sure tak terjangka kan... so, ape sebenarnya yang aku try buat kat situ ?? eksperimental market ?? yup.. tepat sekali kerana novel aku memilih jalan genre imaginatif fiksyen... *ehh, dah imaginasi, fiksyen plak tue... belasah la korang pun... hahaha...*

ramai suka buat andaian, penulisan novel biasanya adalah berdasarkan kisah nyata, pengalaman dalam hidup dan sebagainya... well, aku sangat tak setuju okey.. tak okey... hohoho... sebab pada aku, kalau kisah benar, orang tak buat novel... diorang akan terus buat cerita macam kat tv dulu tue, Kisah Benar: Neraca Kehidupan (KBNK)... ahaha *serius tak best cerita tue sebab baseline story sangat dull....*

taukah korang, bila jari aku actively menekan keyboard untuk mengarang, aku put aside diri aku ke tepi sebab ini bukan kisah tentang aku... to be honest, aku tak sure sama ada aku ada kisah untuk dinovelkan... haahaha... kalau ada, mungkin aku buat drama tv plak pasni... ala, yang macam, cerita KBNK tue tadi, cuma mungkin dalam mode yang lebih ceria-meria... hoho...

basic storyline novel aku adalah simple... semua terarah ke perjalanan hidup Iskandar.. siapa Iskandar dalam dunia nyata ?? seriously, no one... imaginatif semata-mata... *psstt.. kalau ada insan berICkan Iskandar yang punya pengalaman hidup sama macam jalan cerita yang aku coret, do buzz me okay.. aku bagi royalti nanti kat dia, tak kisahlah dia bin apa sekalipun... hahaha...*

watak lain dalam novel tue, adalah berdasarkan permintaan... tak percaya, korang boleh baca balik tiap komen dalam entri episod novel tue... normally, korang hanya minta masuk watak, tapi tak bagitau plak nak jadi apa.. so, aku terpaksa guna kreativiti aku untuk selit masuk dalam setiap episod... kalau ada yang tak gemar dengan pengisian watak yang aku tempekkan, aku mohon maaf sesangat okey... *do let me know of what do you expect from me k.... aku akan consider sebaik mungkin...*

pengarapan aku sebenarnya mudah.. sentiasa mengikut isu semasa yang hangat diperkatakan masyarakat... sekarang nie, jalan cerita aku ke arah mana, dan isu apa yang sedang hangat diperkatakan, aku rasa korang sendiri pun boleh relatedkan... since, aku sendiri pun tak tau apa yang sebenarnya jadi antara 2 pihak tue, sampai naik turun mahkamah, maka aku fiksyenkannya sendiri... tak perlu pening-pening sampai demam nak memikirkannya... yang penting dalam penceritaan aku, mesej sampai... simple !! *ehh.. jap2 nak tanya, kalau benda yang jadi tanpa kerelaan, macam mane boleh sempat pakai pelincir lagi ek ?? seriously, lawak gila... aku dah 2-3 hari gelak bila baca... hehehe...*

cuma, jika ada yang rasa sakit hati dengan isu kupasan menerusi medium novel aku tue, aku rasa tak perlu kot... tak pernah pun, jalan cerita aku point to anybody specific.. unless lah, kalau kau sendiri yang yang rasa terpukul bila baca apa yang aku tulis kan... dan kenapa perlu terpukul dengan cerita novel yang ditulis secara fiksyen imaginatif nie ?? novel picisan je pun... *gila bangga sekejap... okey, dah abes bangga dah... ahaks..*

kata orang, kalau kita rasa terpukul sebab baca penulisan orang lain, apa maknanya tue ?? maknanya, mesej penceritaan tue sampai dan mungkin kau rasa panas sebab kau mungkin buat macam apa yang aku garapkan... pendapat aku, mungkin kebetulan tersirat je tue... tapi, janganlah terlampau defensive sampaikan nampak desperate sangat nak proof something yang pada asalnya takde kaitan langsung dengan kau pun... tak perlu nak memburukkan satu sama lain... haizzz....

prinsip aku mudah je... benda kalau tak betul, kau tak perlu cepat melatah dan melompat macam cacing kepanasan... let go je lah, esok lusa hilanglah ditiup angin, siapa ambil peduli pun.. tapi, kalau dah sampai panas dan rasa terpukul, apakah maknanya ek ?? maknanya betullah kan... ahaha... korang simpulkan lah sendiri ek... *dalam dunia nie, setiap orang ada kelebihan dan kekurangan masing-masing... aku pun tak terkecuali ada gak, no big deal... pape pun, aku tetap cool... tak rasionallah nak main kecoh-kecoh nie... hahaha....*

p/s: dah namanya novel, imaginatif dan fiksyen tak dapat dipisahkan.. tambah sikit perencah asam pedas, gulai kawah dsb, orang pun sukalah nak baca... abes cerita...

regards,

Sunday, May 9, 2010

Mini Novel: Pertama Yang Terakhir (Episode 11 - Mencari Alasan)


Episode 11 – Mencari Alasan

Deraian demi deraian air dari shower membasahi tubuh Iskandar. Kesejukan air saat itu bagai tidak dirasainya. Puas memikir, terpacul sebuah nama dari bibirnya.

Hani !!”, spontan terpacul nama tersebut dari bibirnya.

dia pasti boleh tolong aku..”, gumam hati kecil Iskandar lagi.

Usai mandi, Iskandar segera mencapai telefon bimbitnya dan menghantar sms kepada Hani menyatakan hasratnya ingin bertemu sebentar.

Seminit kemudian, telefon bimbit Iskandar berbunyi, menandakan ada sms baru diterima. Iskandar segera membacanya. Menerusi sms tersebut, Hani setuju untuk bertemu malam itu. Iskandar kemudian mengerling ke arah Adib yang sedang khusyuk melayari internet ketika itu.

Adib, Isk rasa dah sampai masa untuk Adib pulang...”, Iskandar dengan selamba memberitahu Adib.

Adib sedikit terkejut, “sekarang ke?

yup.. jom...”, Iskandar mendesak.

Lambat-lambat Adib bangun dan mengemas barangnya. Langkahnya keberatan.

5 minit kemudian, mereka berdua bersaing turun daripada apartmen Iskandar menuju ke kereta.

kenapa tergesa-gesa nie Isk ?”, soal Adib sebaik kereta Iskandar laju bergerak meninggalkan perkarangan apartmen tersebut.

ada hal sikit..”, pendek jawapan Iskandar.

hurmm..”, Adib sekadar mengeluh.

15 minit kemudian, setelah menurunkan Adib di kolejnya, Iskandar memandu terus ke pejabat Hani yang terletak di Ampang seperti yang telah dijanjikan.

Setelah tiba di situ, Iskandar menghantar sms kepada Hani memberitahu keberadaannya di luar pejabatnya saat itu.

5 minit berlalu, kelihatan kelibat seorang wanita berkaca mata dan bertudung litup menghampiri kereta Iskandar. Tingkap kereta diketuk perlahan, Iskandar menoleh. Bibirnya mengukir senyuman panjang.

assalamualaikum Isk...”, sapa Hani. Pembuka bicara.

Salam bersambut.

Dr Hani... lama aku tak jumpa kau ye... sihat Hani ??”, Iskandar membalas.

macam biasa.. aku sentiasa okay..”, jawab Hani sambil gelak kecil.

kau okey ke Isk ?? serius je bunyi sms kau tadi...”, soal Hani lagi.

aku ?? sangat okey luaran, tapi tak berapa okey dalaman...”, jawab Iskandar selamba.

Masing-masing gelak mendengarkan jawapan Iskandar itu.

kita makan kat Victoria okey ??”, sambung Iskandar sambil memberi cadangan.

Hani mengangguk setuju. Kereta yang dipandu Iskandar mula bergerak menuju ke destinasi yang dirancangkan.

--------------------------------------------------------------

Suasana di dalam Victoria Station ketika itu agak lengang. Sementara menunggu makan yang dipesan oleh mereka tiba, Iskandar memulakan bicara tujuan utama dia mengajak Hani keluar malam itu. Kepadanya, Iskandar menceritakan dilema yang berlaku dalam hidupnya.

Galak bercerita, makanan yang dipesan mereka pun sampai. Iskandar memesan Grilled NZ Fillet Steak, manakala Hani memesan Norwegian Salmon.

Sewaktu menjamah makanan masing-masing, Hani mula mengulas apa yang diceritakan Iskandar kepadanya.

Isk, aku kenal kau dah lama.. jadi aku nak tanya, kau yakin apa yang kau rasa tue adalah cinta ??”, soal Hani.

maksud kau Hani ??”, Iskandar tidak mengerti.

let’s put this way.. kau couple dengan dia pun bila kau rasa kau terlanjur dengan dia kan ??”, soal Hani lagi.

hurm.. betul..”, Iskandar mengiyakan.

jadi aku tanya semula, kau yakin apa yang korang ada tue adalah cinta ??”, Hani mengulangi semula pertanyaan mereka.

aku tak pasti.. aku mengaku, aku setuju untuk couple pun sebab dia cakap dia dah lama sukakan aku.. tambahan plak, aku rasa bertanggungjawab dengan apa yang berlaku...”, panjang lebar Iskandar menerangkan.

sepanjang korang couple, pernah korang buat anything lagi tak ??”, Hani menyoal.

Wajah Iskandar berkerut memandang Hani bila mendengarkan soalan tersebut.

that night was the first time and last time we did it...”, lambat-lambat Iskandar menjawab.

Hani menggelengkan kepalanya.

so, apa yang korang buat sebagai membuktikan cinta korang tue ??”, dengan muka selamba Hani meneruskan soalannya.

aku bagi dia kesenangan...”, pendek Iskandar menjawab.

maksudnya ??”, Hani pula yang tidak faham kali ini.

bila keluar, biasanya aku cover makan minum dia.. bila dia perlukan pertolongan, aku bantu setakat yang boleh, aku hantar ke mana yang diminta...”, ujar Iskandar.

Hani mengelengkan kepalanya lagi. Tergambar rasa tidak setuju dengan tindakan Iskandar di mukanya.

Isk, to be honest, aku tak rasa apa yang kau ada nie adalah cinta... hubungan kau dan dia tak seintim mana pun dan dia plak banyak menikmati kemewahan yang kau beri... tapi, aku tak nampak give and take dalam hubungan korang nie..”, panjang lebar Hani memberikan kesimpulannya.

Iskandar mengangguk perlahan.

kau tau tak, nampak macam kau sugar daddy dia plak... no wonder la dia ada orang lain...”, lancar saja Hani menempelak Iskandar.

eh.. kau nie... perli aku ke apa nie ??”, terbit riak tidak puas hati dalam nada bicaranya. Iskandar menjeling tajam ke arah Hani.

Hani gelak kecil melihat reaksi Iskandar ketika itu.

Isk, kau yang minta pendapat aku.. jadi aku perlu bagi seikhlas mungkin dan tanpa prejudis... harap kau tak kecik hati.. okey ??”, Hani cuba memujuk Iskandar yang kelihatannya masih tidak berpuas hati dengan tempelak Hani tadi.

ye la... aku paham... so, apa aku kena buat nie ??”, tanya Iskandar acuh tak acuh.

eh.. tak paham-paham lagi kau nie agaknya... first, aku rasa kau tinggalkan je dia.. bukan kau dapat apa pun... kedua, kau bayar harga makanan aku nie.. kira upah consultation aku la...”, dengan selamba Hani menjawab.

eh.. member-member pun nak berkira ke ??”, Iskandar tidak puas hati.

kau ingat aku amek Master Managerial Psychology tue free ke Isk ?? dah dah-sah bayar tau tak...”, Hani menjeling kepada Iskandar.

hahaha... okey, okey... aku bayar kali nie...”, Iskandar mengalah...

Hani tersengih mendengar jawapan Iskandar.

--------------------------------------------------------------

Keesokkan malamnya, telefon bimbit Iskandar berbunyi. Dicapainya pantas, dilihat terdapat sms baru diterima daripada Adib.

Adib : “bila kita nak keluar nie ?? boringlah...
Iskandar : “malam ni pun boleh... lgpun, memang nak Adib malam ni..
Adib : “erk... serius je bunyinya..
Iskandar : “jam 8 nie, tunggu tempat biasa..
Adib : “okey..

Setelah bertemu malam itu, Iskandar membawa Adib makan di sebuah restoran di Bangi. Sewaktu makan, Iskandar memulakan bicara. Segalanya telah disusun di dalam fikirannya sedari semalam ketika pertemuan dengan Hani berakhir.

Adib, siapa Idzwan ??”, selamba Iskandar menyoal Adib.

Adib yang ketika itu sedang mengunyah makanannya, tersedak.

kenapa ?? terkejut ke ??”, Iskandar menyoal lagi.

Adib kaget. Direnungnya wajah Iskandar yang kelihatan tenang dan bersahaja saja saat itu.

dia... dia.. err...”, gagap Adib mengatur bicara.

dia ada skandal dengan Adib sekarang nie kan ??”, terjah Iskandar lagi...

Wajah Adib tunduk diam...

okey, kau diam lagi... takpe... jom balik !!”, Iskandar masih menyabarkan dirinya. Dia lantas bangkit dan menuju ke arah pintu keluar.

Setelah Adib masuk ke dalam kereta, Iskandar terus memandu laju ke arah kolej Adib. Kelajuan kereta ketika itu mencecah 160 km/j. Beberapa lampu isyarat merah dilanggar begitu sahaja oleh Iskandar.

Isk, please... janganlah macam nie...”, Adib merayu.

Iskandar masih diam seribu bahasa. Tidak lama kemudian, kereta yang dipandu Iskandar tiba di perkarangan kolej Adib.

Iskandar menarik nafas panjang.

selama nie aku ingat apa yang aku beri adalah cinta, tapi baru aku sedar, segala apa yang aku taburkan hanya kebendaan dan kesenangan pada kau, tak lebih dari tue...”, Iskandar mengeluh lembut.

Isk...”, Adib cuba memujuk Iskandar. Tangannya meraih bahu Iskandar, namun ditepis pantas oleh Iskandar.

sebelum ini mungkin aku keliru, dikelabui rasa bersalah.. tapi sekarang aku sedar yang perasaan aku sebenarnya bukan untuk seorang lelaki..”, ujar Iskandar lagi.

Adib minta maaf Isk...”, Adib cuba memujuk Iskandar sekali lagi.

Adib Uzair, kau bebas bawa jalan kau sendiri... mulai malam ini, antara kita tiada apa-apa lagi hubungan... apa yang kau buat di belakang aku, hanya memudahkan keputusan yang aku ambil nie...”, Iskandar dengan tegas menyatakan pendiriannya.

Demi mendengar kata-kata Iskandar, Adib memandang Iskandar, meminta pengertian.

mungkin kau lebih selesa dengan Idzwan... dan aku harap dia mampu memberikan apa yang pernah aku berikan kepada kau... selamat tinggal Adib..”, perli Iskandar.

Isk....”, Adib tidak mampu meneruskan kata-katanya.

--------------------------------------------------------------

Kini, Apartmen Iskandar.

ding.. ding.. ding..

Jam yang berdenting 10 kali menyedarkan Iskandar dari lenanya.

astagfirullah-al-azim... aku tertidur rupanya...”, bisik hati Iskandar sendirian.

Iskandar menoleh ke arah skrin komputer yang masih terpasang. Email dari Adib masih terbuka. Dia tidak menyangka sehingga terlelap dia mengingati kisah antara dia dan Adib dulu.

Secara tiba-tiba, fikiran Adib teringatkan sesuatu.

eh.. suara Adib dulu, macam familiar...”, getus rasa hatinya.

Otaknya ligat memikirkan sesuatu dan lantas Iskandar teringatkan sesuatu. Nafasnya berdegup kencang.

suara Adib dan suara dalam mimpi yang sering menganggu tidurnya sebelum ini, ternyata sama !!”, simpul Iskandar.

astagfirullah-al-azim...”, buat kali kedua Iskandar beristighfar.

(bersambung...)

regards,

Sunday, May 2, 2010

Mini Novel: Pertama Yang Terakhir (Episode 10 - Cinta Menjauh)


Nota:
Ini adalah update episode back-to-back.. Sila pastikan korang membaca entri "Episode 09 - Yang Tertinggal" terlebih dahulu.. TQ

--------------------------------------------------------------

Episode 10 – Cinta Menjauh

Sejak daripada kejadian yang tidak disangka oleh Iskandar, telah 5 bulan Iskandar dan Adib bersama. Biarpun, Iskandar sibuk dengan kerjanya, namun sedaya upaya dia cuba untuk tidak mengabaikan Adib.

Dia masih cuba untuk menyesuaikan diri kehidupan baru yang tidak langsung pernah dibayangkan sebelum ini. Biarpun sekadar bertemu dan bersama seminggu sekali oleh kerana kerana kekangan pengajian Adib yang masih belum selesai, namun ia bukan masalah.

Cuma, terkadang Iskandar tidak mengerti dengan sikap Adib. Namun, dia cuba mengalah demi mengelakkan konflik daripada berlaku. Pernah suatu ketika mereka saling bersms,

Iskandar : “slm.. sayang Isk nie tgh buat apa tue ?
Adib : “baru nak gie makan..
Iskandar : “hurm... sayang nak makan apa ? share sket bole ?"
Adib : “tak tau ag.. neway, tak perlu la pggl sayang.. tak biasa la..
Iskandar : “abes tue nak pggl apa ag ?
Adib : “pggl name je dah la..
Iskandar : “knp tak bole pggl sayang plak ? tak best la cmnie...
Adib : “tak suka la..
Iskandar : “ok.. baiklah...

Iskandar tidak mengerti, namun dia sebolehnya cuba menghormati apa yang diinginkan oleh Adib, biar seringkali dia yang makan hati.

--------------------------------------------------------------

Adib : “slm.. Isk tgh buat apa ?
Iskandar : “tgh ready nk keluar lunch nie..
Adib : “tolong amik Adib kat kolej skrg nie, bole tak ?
Iskandar : “skrg nie ? bukan kelas Adib sampai ptg ke ?
Adib : “kelas cancel.. bole tak nie ?
Iskandar : “hurm...
Adib : “pls Isk... bosan la dok kt kolej nie..
Iskandar : “abes tue Adib nk watpe ?
Adib : “nk lepak rumah Isk... at least bole surf internet..
Iskandar : “ye la.. setengah jam ag sampai..
Adib : “ok, leklok tau..

Selepas itu, Iskandar bergegas menuju ke kolej Adib, mengambilnya seperti yang diminta. Iskandar rela hati melakukannya walau kadang-kadang dia tidak suka diperlakukan sebegitu. Bila hanya diperlukan, dia di cari, jika tidak masing-masing diam seribu bahasa.

Setibanya Iskandar di kawasan kolej Adib, matanya melihat ke arah sekeliling mencari kelibat Adib. Tidak kelihatan. Tangannya mencapai telefon bimbitnya, lantas menghantar sms kepada Adib.

Iskandar : “dah smp dah nie...
Adib : “jap...

Iskandar menggelengkan kepalanya. Bunyi sms awal tadi seakan minta diambil cepat, tapi sekarang ini disuruh tunggu pula.

5 minit berlalu dan kemudian tingkap kereta diketuk dari luar. Iskandar menoleh, kelibat Adib berada di luar keretanya. Iskandar memberikan isyarat supaya masuk.

sorry Isk sebab minta amik tetiba macam nie..”, Adib memohon maaf kepada Iskandar.

hurm.. ye la tue.. Adib nie, kalau ada benda nak je, baru nak cari Isk kan.. kalau tak, jangan haraplah... betul tak ??”, Iskandar menempelak Adib.

Adib sekadar tersengih.

eh.. Isk dah makan ke belum ? jom makan, Adib lapar la... belanja Adib makan hari nie, boleh ?? please...”, Adib merayu Iskandar, sekaligus mengubah topik perbualan asal.

belanja hari nie ?? bukan tiap kali pun Isk yang belanja ke ??”, perli Iskandar.

ye la.. Adib mane ada duit.. kerja pun tak lagi... lain la Isk, banyak duit..", Adib menarik muka masamnya.

dah, dah... jom kita gie makan...”, Iskandar memujuk.

Kereta yang dipandu oleh Iskandar segera meluncur laju keluar daripada kawasan kolej tersebut.

kita nak makan apa nie ??”, soal Adib.

kita makan mcD je la.. lagi pun, kul 2 nanti Isk nak kena masuk opis balik..”, jawab Iskandar.

okay..”, ringkas Adib memberi reaksi.

Senyap. Keadaan menjadi senyap sepanjang perjalanan mereka. Adib lebih sibuk melayan sms yang diterima telefon bimbitnya. Iskandar menyedari keadaan itu. Bukan sekali dua ia berlaku, namun belum masanya untuk dia menyuarakan ketidakpuasan hatinya.

Setibanya dia mcD berdekatan, mereka berdua segera memesan set makanan masing-masing. Kemudiannya, mereka memilih untuk duduk di tempat yang paling hujung sekali di dalam restoran makanan segera itu. Suasana di dalam restoran tersebut agak lengang ketika itu.

Mereka berdua dengan berselera menikmati makanan masing-masing. Sambil menikmati makanannya, Adib masih galak melayan sms di telefon bimbitnya itu. Iskandar sekadar memerhatikan gelagat Adib. Dia memilih untuk membisu buat masa sekarang ini.

20 minit berlalu.

jom.. dah nak dekat pukul 2 nie...”, Iskandar memecah suasana senyap di antara mereka.

Adib sekadar mengangguk bersetuju.

10 minit kemudian, kereta yang dipandu Iskandar tiba di kawasan apartmen rumahnya. Iskandar hanya sekadar menurunkan Adib kerana dia perlu kembali ke pejabat untuk menyelesaikan urusan kerjanya. Sebelum berpisah, Iskandar berpaling untuk mengucup pipi Adib, namun sempat dielak oleh Adib.

later okay...”, ujar Adib.

--------------------------------------------------------------

Malam itu, sekitar jam 7 malam, Iskandar tiba di rumahnya. Dia mencari kelibat Adib, namun tak kelihatan pada awalnya. Bunyi desiran air dari arah bilik air rumahnya memberitahunya bahawa mungkin Adib sedang mandi.

Iskandar merebahkan tubuhnya ke atas katil di dalam biliknya. Tidak sempat pun dirinya menikmati saat itu, telefon bimbit milik Adib berkelip-kelip. Telefon bimbit yang disilentkan bunyinya itu dicapai oleh Iskandar. Terpapar di skrin kecil telefon tersebut terdapat sebuah mesej sms daripada Idzwan. Saat itu, gejolak hati Iskandar kuat ingin mengetahui isi kandungan sms tersebut. Iskandar keluar dari bilinya sebentar, melihat ke arah bilik air. Tiada tanda-tanda Adib akan keluar lagi.

Demi sahaja sms tersebut ditekan dan terpapar, Iskandar menarik nafas panjang.

Idzwan : “sayang tgh buat apa tue ?

Iskandar tidak puas hati lagi, dia terus membaca sms-sms lama yang masih terdapat di dalam kotak mesej telefon Adib itu. Sebaik sahaja membaca kesemuanya, aliran nafas Iskandar menjadi kencang dan tidak terkawal.

Matanya tertancap pada perkataan-perkataan “sayang”, “abang”, “miss you” yang berulang kali muncul dalam sms-sms tersebut. Dia terus membaca lagi.

Melihatkan sahaja ayat-ayat yang berbaur lucah seperti “sayang kan ganas di ranjang” dan sebagainya, hati Iskandar seakan-akan mahu meletup. Namun, sedaya upaya masih cuba ditahan dan dikawal perasaan amarah oleh Iskandar.

Kemudian, kedengaran bunyi air dari arah bilik air berhenti, menandakan Adib telah selesai mandi. Iskandar dengan pantas meletakkan semula telefon bimbit Adib di tempat asalnya. Dia kembali berbaring di atas katil dan berlakon seakan-akan tiada apa yang berlaku.

Adib yang muncul di pintu bilik sedikit terkejut dengan kepulangan Iskandar.

eh, bila Isk sampai ? tak dengar pun..”, soal Adib.

baru je.. penat pun tak hilang lagi...”, ujar Iskandar acuh tak acuh sahaja.

Adib menghampiri Iskandar yang sedang baring ketika itu. Dia duduk di sebelah tubuh Iskandar. Tangannya diletakkan perlahan-lahan di dada Iskandar. Iskandar lantas bangun secara spontan.

Isk nak mandi dulu la...”, balas Iskandar ringkas. Dia berlalu mencapai tuala yang tersangkut, terus menuju ke bilik air.

Saat tubuhnya dibasahi oleh titis-titisan air shower yang deras terpasang, fikiran jauh menerawang memikirkan tentang apa yang baru diketahuinya itu.

siapa Idzwan ?”, gumam hati kecilnya.

(bersambung...)

regards,

Mini Novel: Pertama Yang Terakhir (Episode 09 - Yang Tertinggal)


Episode 09 – Yang Tertinggal

Telah seminggu Jane kembali ke pangkuan Ilahi.

“Tetaplah menjadi bintang di langit agar cinta kita akan abadi..
Biarlah sinarmu tetap menyinari alam ini agar menjadi saksi cinta kita berdua...”

Tatkala Iskandar khusyuk melayan lagu dendangan kumpulan Padi dari komputer ribanya, paparan browser kecil muncul di skrin komputer memberitahu terdapat sebuah email baru yang diterimanya. Lantas dia membuka email tersebut.

Demi melihat nama pengirimnya, Iskandar menghela nafas panjang. Adib Uzair, sebuah nama yang telah lama tidak muncul dalam hidupnya. Iskandar menghitung, hampir setahun lamanya.

Perlahan, dia membaca email tersebut.

assalamualaikum Isk,

Isk sihat tak ?? masih marahkan Adib lagi ke ?
Adib tau Adib dah banyak buat salah sebelum nie..
Adib minta maaf sangat-sangat... I’m sorry k..
boleh kita jumpa ?? itu pun kalau Isk tak keberatan...

- Adib –

Usai membaca email tersebut, fikiran Iskandar menerawang jauh, mengimbas saat perkenalan singkat mereka sebelum ini. Perkenalan yang menyakitkan.

--------------------------------------------------------------

Kuala Lumpur, awal 2009..

Telah hampir setahun lebih sejak peristiwa di Auckland terjadi. Biarpun apa yang berlaku bukanlah kehendaknya, namun ia tetap memberi kesan mendalam terhadap Iskandar.

Semenjak pulang dari Auckland dan menyambung pengajiannya yang tertangguh di ibu kota, Iskandar cuba sebolehnya untuk mengelakkan daripada komited terhadap sebarang perhubungan serius. Walaupun kini, pengajiannya telah tamat, namun prinsipnya yang satu itu tetap tidak berubah.

Namun, perkenalannya dengan Adib Uzair melalui ruangan maya telah memberi sisi dimensi baru kepadanya untuk melihat kehidupan. Ternyata, perkenalan yang berlaku cukup menyenangkan Iskandar.

Baginya, Adib seorang yang memahami dan sangat mengambil berat, meskipun adakalanya anginnya tidak dapat dibaca. Namun, itu tidak menjadi penghalang untuk mereka menjadi rapat dan bersahabat. Persahabatan yang dibina semakin utuh dari hari ke hari, biar singkat sekali masa yang berlalu.

Namun, langit yang di lihat cerah tak semestinya sampai ke petang. Keakraban yang terjalin di atas nama sebuah persahabatan ternyata belum cukup kuat untuk menepis dan menongkah badai yang datang menghempas tanpa amaran.

Malam itu, seperti lazimnya, Adib datang meluangkan masa bersama-sama di apartmen Iskandar. Acapkali sebelum ini, mereka menghabiskan masa bersama menonton video atau berbual-bual kosong, jika tidak keluar merayau ke mana-mana. Bagi Adib, apartmen Iskandar bukanlah tempat asing untuknya apabila tiba hujung minggu.

Malam itu, ternyata amat sama sekali berbeza daripada malam-malam yang lainnya. Ternyata, suara bisikan dan godaan halus kesesatan berjaya mengoncangkan iman tipis mereka berdua. Garis batas persahabatan yang dipelihara erat selama ini, gagal dipertahankan dan cukup mudah dilangkaui demi sebuah keseronokan sementara. Satu kemenangan kepada sang iblis laknatullah !!

Keesokkan paginya, saat Iskandar terjaga, dia menyedari yang Adib berada di dalam pangkuannya. Merenung wajah Adib yang masih nyenyak tidur, dia cuba mengingati kejadian semalam.

“eh ??”, serta-merta peristiwa yang berlaku diantara dia dan Mark dulu menerjah ruang ingatan Iskandar. Bezanya kali ini, dia yang memainkan peranan Mark. Iskandar pantas menarik tangannya daripada terus memeluk Adib, sekaligus menyebabkan Adib terjaga. Demi melihat keadaan mereka berdua, Adib kaget !!

--------------------------------------------------------------

Sepanjang pagi itu dilalui mereka berdua tanpa sepatah bicara mengenai kejadian malam semalam. Saat itu, Iskandar berperang dengan perasaaannya sendiri.

Melihat Adib yang sedang leka menonton televisyen saat itu seolah-olah seperti tiada apa-apa yang terjadi menjadikan Iskandar serba-salah.

membiarkan saja apa yang terjadi tanpa berbincang, hanya akan menjadikan aku sama seperti Mark...”, bisik hati kecil Iskandar.

Iskandar lantas bangun menuju ke arah Adib. Dia nekad dengan keputusan yang diambil. Dia merasakan dia perlu bertanggungjawab juga dengan apa yang terjadi.

Adib..”, Iskandar memulakan langkah bicara. Agak berat untuk dia menyambung bicaranya, lantas terus menghela nafas yang panjang.

Isk minta maaf dengan apa yang berlaku semalam... tanpa sedar kita berdua tewas pada keseronokan dunia..”, ujar Iskandar lagi.

Adib memandang ke arah Iskandar, menghadiahkan sebuah senyuman.

takpe Isk.. Adib dah biasa dah...”, selamba saja Adib menjawab. Iskandar agak terperanjat mendengarkan jawapan spontan Adib itu.

maksudnya Adib ?”, Iskandar meminta kepastian.

maksudnya, tak ada apa-apa yang perlu Isk risaukan.. Adib memang sukakan Isk... harap Isk tak kisah...”, ucap Adib berterus-terang.

Kejutan lagi. Iskandar terkejut, namun cuba disembunyikan perasaannya itu.

kenapa Adib tak pernah bagitau pun sebelum nie ??”, Iskandar menyoal lagi.

Adib takut Isk tak mampu nak terima Adib..”, balas Adib lagi. Tangannya mula menarik tangan Iskandar. Iskandar yang masih serba-salah hanya membiarkan saja perbuatan Adib tersebut.

please Isk.. bagi peluang pada Adib ??

Iskandar terkedu mendengarkan permintaan Adib itu. Dia merenung ke arah Adib. Lama Iskandar mendiamkan diri, sebelum memberikan keputusannya.

okey..”, pendek saja jawapan Iskandar.

thanks Isk...”, Adib tersenyum gembira. Sebuah kucupan dihadiahkan ke arah pipi Iskandar. Iskandar tersenyum pahit, nyata sekali dia kekok !!

(bersambung...)

regards,

Monday, April 19, 2010

Mini Novel: Pertama Yang Terakhir (Episode 08 - Hilang Berganti)


Episode 07 – Hilang Berganti

Auckland City Hospital

teet.. teet...”, bunyi mesin denyutan nadi secara berkala itu cukup untuk menunjukkan Jane masih bernyawa saat itu biarpun dia masih belum sedarkan diri.

Di luar wad ICU hospital, Iskandar yang baru tiba daripada menempuh penerbangan yang panjang dari Kuala Lumpur memandang sayu ke arah tubuh Jane yang tidak bergerak itu. Setia menemaninya di kala itu adalah Fiqah.

Fiqah, dah bagitau family Jane ke ??”, perlahan saja Iskandar melemparkan soalan kepada Fiqah.

yeah.. they will be here tomorrow morning...”, Fiqah menjawab sambil mengangguk ringkas.

Sepanjang perkenalan mereka sebelum ini, Iskandar mengakui yang dia tidak pernah mengetahui mahupun mengenali ahli keluarga Jane. Jane cukup berahsia mengenai keluarganya sebelum ini. Dan esok pagi, adalah kali pertama dia akan berjumpa dengan mereka, 3 tahun selepas mereka berpisah.

Iskandar tambah ralat apabila Fiqah menerangkan tentang penyakit jantung yang dihidapi Jane selama ini. Iskandar kecewa kerana sepanjang hubungan mereka berdua sebelum ini, Jane tidak pernah memberitahunya tentang penyakitnya.

--------------------------------------------------------------

Keesokkan paginya, saat Iskandar tiba di wad ICU, Fiqah segera mendapatkannya.

Isk, family Jane dah sampai...”, sambil tangannya menunjukkan ke arah seorang wanita berusia separuh abad ditemani oleh seorang wanita muda.

Iskandar menoleh ke arah yang ditunjukkan oleh Fiqah. Iskandar mengamati susuk tubuh wanita muda yang berada bersebelahan dengan wanita berusia separuh abad itu. Dadanya berombak kencang.

Perlahan-lahan dia menghampiri kedua mereka.

makcik...”, Iskandar menyapa sambil menghulurkan tangan bersalaman.

Wanita berusia separuh abad itu memandang ke arah Iskandar.

anak ni Iskandar kan ??”, soal wanita tersebut.

Iskandar sekadar mengangguk sahaja.

makcik nie ??”, Iskandar cuba mengatur bicara untuk menyoal.

makcik Habibah, ibu Jane...”, jawapan ringkas wanita tersebut cukup untuk merungkai persoalan di benak hati Iskandar.

Khaylila, apa khabar ?”, Iskandar kemudian mengalihkan pandangan ke arah wanita muda tersebut.

Pandangan mereka bertemu saat itu. Khaylila sedikit kekok dengan suasana tersebut.

Fiqah yang menyedari situasi tersebut cepat-cepat mencelah.

Isk kenal dengan Khaylila ke ?

Iskandar tersenyum mengangguk.

lama kita tak jumpa kan, Khaylila ?? tak sangka kita bertemu kembali dalam keadaan begini..”, Iskandar menyambung bicaranya.

Khaylila sekadar mengangguk tanpa banyak bicara.

bila Ila dan Iskandar berkenal sebelum nie ??”, soal makcik Habibah.

masa sekolah dulu !!”, serentak Khaylila dan Iskandar menjawab.

Kedua-duanya saling berpandangan. Akhirnya, terlerailah ketawa mereka melihatkan suasana yang tidak disangka-sangka itu.

Makcik Habibah hanya tersenyum melihatkan keletah mereka..

Petang itu, keadaan Jane masih tiada perkembangan. Tubuh Jane masih lagi kaku, kritikal. Iskandar mengambil peluang untuk mengajak Khaylila berbual sambil berjalan-jalan di ruang taman hospital.

Isk tak tau plak Khaylila ada adik sebelum ini...”, Iskandar menyuarakan kehairanannya kerana setahu dia, Khaylila anak tunggal.

owh.. Jane hanya sepupu Khaylila.. Khaylila di sini pun sebab nak temankan makcik Habibah melawat Jane.. Jane pun anak tunggal juga...” terang Khaylila panjang lebar.

kecik rupanya dunia kita nie... pusing-pusing, alih-alih jumpa semula kan...”, Iskandar menyatakan pendapatnya.

Khaylila tersenyum.

Isk, macam mana Isk boleh kenal Jane ??”, soal Khaylila ingin tahu.

hurm... panjang ceritanya...”, Iskandar menghela nafas panjang. Agak sukar untuk dia menerangkan kepada Khaylila.

tapi, cukuplah Isk katakan yang kami pernah bersama suatu masa dulu.. tapi itu semua cerita masa lepas, dah lama berlalu pun...”, terang Iskandar lagi.

jika cerita yang dah lama berlalu, kenapa Isk masih di sini hari nie menantikan Jane untuk sedar ??”, Khaylila melontarkan persoalan sinis kepada Iskandar.

Iskandar terkesima. Dia lantas merenung wajah Khaylila. Wajah yang suatu masa dulu pernah mengisi ruang hatinya, di saat dia belum berangkat melanjutkan pelajarannya ke Auckland lama dahulu.

Persoalan itu sengaja dibiarkan tidak berjawab oleh Iskandar. Khaylila juga tidak memaksa Iskandar untuk menjawab soalannya tadi. Topik perbualan petang itu dialihkan daripada satu topik ke topik yang lain.

Sehinggalah, bunyi mesej dari telefon bimbit menganggu perbualan mereka. Iskandar membaca mesej yang diterima daripada Fiqah menyampaikan berita bahawa Jane telah sedar.

Iskandar dan Khaylila terus bergegas ke tingkat atas hospital untuk mendapatkan Jane.

Setibanya di wad Jane, Iskandar menerpa ke arah Jane.

Jane... “, Iskandar menyapa. Tangannya mengenggam tangan kanan Jane.

Khaylila sekadar memerhati gelagat Iskandar saat itu.

i’m sorry Isk...”, Jane menutur bicara lemah.

Keadaan Jane yang masih lemah ketika itu meghalangnya daripada berbicara lanjut.

no.. no.. i’m sorry too Jane...“, balas Iskandar.

Jane hanya mampu mengangguk tanda faham dengan kata-kata Iskandar.

Selepas itu, Iskandar memberi peluang kepada Khaylila dan makcik Habibah untuk bersama menemani Jane. Dia melangkah keluar dari wad tersebut, cuba menyembunyi perasaan hibanya saat itu.

--------------------------------------------------------------

Jam menunjukkan waktu ketika itu menginjak 3.45 pagi waktu Auckland. Iskandar yang saat itu sedang nyenyak tidur di bilik hotelnya terjaga apabila telefon bimbitnya berbunyi.

Dia mencapai telefonnya, melihat nama Fiqah tertera pada skrin telefonnya, lantas di angkat.

Isk, Jane...”, dalam esak tangisan Fiqah cuba memberitahu Iskandar.

Tanpa menunggu Fiqah menghabiskan kata-katanya, Iskandar segera mencapai t-shirt berwarna ungu gelap dan terus bergegas ke Auckland City Hospital. Jarak perjalanan di antara tempat Iskandar menginap dan hospital hanyalah 10 minit berjalan kaki sahaja.

5 minit kemudian, Iskandar tiba di wad Jane. Nafasnya mengah dek kerana berlari pantas dalam pada menuju ke situ.

what’s happened ??”, soal Iskandar kepada Fiqah.

i think her time has come...”, Fiqah masih lagi menangis.

Iskandar menyerbu masuk ke dalam, kelihatan makcik Habibah dan Khaylila di sisi Jane. Makcik Habibah cuba untuk membimbing Jane mengucap dua kalimah syahadat terakhirnya, dengan harapan Jane pergi dalam ketenangan. Air mata jernih di kelopak matanya tidak henti bercucuran walaupun dia cuba menguatkan semangatnya.

Iskandar merapati tubuh kaku Jane, lantas mengenggam tangannya.

Jane...”, tiada ungkapan kata susulan yang mampu diluahkannya saat itu. Hatinya sebak.

Tepat jam 4.08 minit pagi waktu Auckland, Jane kembali menghadap ilahi. Tangis sedu-sedan menghiasi suasana wad ketika itu. Khaylila cuba menenteramkan perasaan makcik Habibah yang baru sahaja kehilangan anak tunggalnya.

--------------------------------------------------------------

Jenazah Jane selamat tiba di Lapangan Terbang Kuala Lumpur keesokkan harinya. Keberangkatan pulang jenazahnya diuruskan oleh Fiqah dengan bantuan Iskandar dan Konsulat Malaysia di Auckland. Dari situ, rancangan pengebumian diatur oleh ahli keluarga Jane yang lain dan dijadualkan berjalan selepas waktu asar nanti.

--------------------------------------------------------------

Selesai upacara pengebumian Jane, Fiqah datang menghampiri Iskandar yang masih lagi duduk berteleku memandang kosong ke arah pusara Jane.

Isk, surat nie dah lama Jane titipkan untuk simpanan Fiqah, sebelum daripada Jane kembali ke Malaysia untuk mencari Isk... pesanannya agar dapat diserahkan pada Isk bila dia telah tiada...”, sebak Fiqah menuturkan bicaranya.

Iskandar menyambut sekeping sampul surat kecil yang diunjukkan oleh Fiqah. Perlahan dia membuka surat tersebut. Tulisan tangan Jane di dalam surat tersebut dibacanya.

Iskandar,

Masih ingatkah lagi Isk dengan janji Isk akan permintaan Jane ?? Jane minta maaf untuk itu kerana terlalu mengikut kata hati meskipun berat untuk ditunaikan Isk saat itu. Hari Isk kembali pulang ke Malaysia dan meninggalkan bumi Auckland, Jane cuba mengejar, namun apa kan daya.. Takdir menentukan Jane tidak sempat untuk bertemu Isk ketika itu, biar dicuba, biar dikejar dan biar dipaksa sekalipun..

lilin kecil, sinarmu pancarkan harapan
jangan kau hilang, jangan kau pergi
temani aku yang sedih dan sepi
air mata jatuh basahi pelangi
pupus warnamu di masa yang indah
menepilah cinta saat tak ingin ku dekati
takkan teringkari masa ini kan ku lalui
takkan pernah sesali menghentikan langkah-langkahku...

Iskandar lilin kecilku, Jane mohon maaf...

- Jane –

Saat selesai membaca surat terakhir Jane itu, Iskandar terduduk. Air matanya bergenang lagi.

(bersambung...)

regards,

Faithful Followers

Blog Walking

♥ SILA TINGGALKAN JEJAK KORANG DI SINI.. ♥
Insya-Allah, aku akan rajin2kan diri follow dan blogwalking korang nanti...
♥ THANKS !! ♥
-------------------------------

Network Blogs