Sunday, November 28, 2010

Sebelum Terlewat .::. [Chapter 4 - Kepada Hati Itu]


Chapter 4: Kepada Hati Itu

Part I

Deru angin berhembus lembut ketika itu. Budi membuka matanya dan menarik nafas panjang. Dia mendepakan kedua tangannya sambil menikmati dan menghirup udara segar laut di hadapannya.

“Budi !!!”, suara meneriak namanya sayup-sayup kedengaran di sebalik bunyi ombak yang kuat menderu.

Dia menoleh. Sesusuk tubuh anak kecil berlari-lari anak sambil melambai-lambai ke arahnya. Dia tersenyum.

“Budi....”, anak kecil itu memanggil namanya lagi saat menghampiri Budi. Tercungap-cungap nafasnya ketika itu.

“kenapa berlari tak cukup tanah nie ??”, soal Budi.

“tengok nie.. cantik tak ??”, soal anak kecil itu manja. Tangannya menunjukkan kulit cengkerang berwarna putih kepada Budi.

Budi hanya sekadar mengangguk.

“nie untuk Budi...”, tangannya mengunjukkan kulit cengkerang dan diletakkan di atas tapak tangan Budi.

“terima kasih sayang..”, ucap Budi lantas mengucup dahi anak kecil itu.

Anak kecil itu tersengih manja. Kemudiannya, dia berlari menuju ke arah air laut yang memancar-mancar kejernihannya dek sinaran sang matahari terik.

“jom main air..”, ajak anak kecil itu sambil melambai-lambaikan tangannya.

Budi sekadar mengangguk, membalas dengan sebuah senyuman. Fikirannya menerawang jauh ke laut lepas.

“Budi !!!”, kedengaran suara anak kecil itu berteriak...

“Budi !!!...”

- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -

“Budi !! Budi !!..”, namanya diteriak lagi.

Terasa pipinya seperti ditampar-tampar lembut. Dia membuka kelopak matanya perlahan-lahan. Matanya meliar memandang sekeliling. Tiada lagi kelibat anak kecil itu atau deru ombak menemaninya saat itu.

“dah sedar pun... are you okay Budi ??”, soal Farah kepadanya.

Budi sekadar mengangguk lemah. Kepalanya terasa berdenyut-denyut ketika itu. Dia cuba untuk bangun sambil dibantu oleh Aidil dan Kiki.

“apa dah jadi bro ?”, soal Aidil pula.

Budi menggeleng-gelengkan kepalanya sahaja.

“okay ke tak nie ??”, soal Razif pula.

“okay.. aku rasa okey sikit dah..”, balas Budi ringkas.

“korang pergi hantar Budi balik dulu.. lain kali je kita sambung practice kita...”, arah Farah kepada yang lain.

Masing-masing mengangguk setuju.

- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -

Usai dihantar pulang oleh Aidil dan Kiki tengah hari tadi, Budi terus merebahkan tubuhnya di katil. Sedar tak sedar, dia terlelap terus. Menjelang senja barulah dia terjaga.

Setelah mandi, barulah badannya terasa segar sedikit. Budi menoleh sekeliling, kelibat Amar tidak dilihatnya langsung.

“mungkin dia keluar kot..”, fikir Budi lagi.

Dia hanya menghabiskan hari itu dengan menonton televisyen sahaja.

- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -

Part II

Hari itu, Budi tidak mempunyai apa-apa aktiviti luar. Untuk mengelakkan kebosanan, dia mencapai notebook, lantas terus menghidupkannya. Setelah notebook dihidupkan, dia membuka Yahoo Messenger miliknya.

Selesai login, tertera senarai rakan-rakannya yang saat itu sedang online. Matanya memerhatikan satu persatu senarai tersebut dan terhenti pada satu nama.

Budi lantas mengklik nama tersebut dan paparan skrin mesej keluar selang beberapa saat kemudian.

“assalamualaikum ??”
BUZZ..

Budi sabar menanti jawapan balas. Sambil itu, dia melayari beberapa laman web lain.

Lima minit berlalu dan masih tiada sebarang jawapan balas. Dia menyabarkan hatinya dan terus menyambung melayari laman web lagi.

Lima belas minit terus berlalu. Masih tidak berbalas. Riak muka Budi sedikit menunjukkan rasa hampa. Dia menghela nafas panjang. Skrin Yahoo Messenger tersebut ditutup.

- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -

Malam itu, Amar mengajak Budi untuk makan malam di sebuah restoran Tom Yam. Hati Budi agak panas apabila dipaksa memandu sehingga ke Bangi semata-mata untuk makan Tom Yam. Baginya, di sekitar rumah mereka pun ada banyak restoran sebegitu.

Namun, Amar beria-ia mengajaknya makan di situ juga atas alasan masakan di situ yang sedap. Budi sekadar menurut sahaja kemahuan teman serumahnya itu walaupun dia merasakan sedikit tidak puas hati.

Sesampainya di situ dan memarkir kereta Savvy miliknya di tempat yang dikhaskan oleh restoran tersebut, mereka terus memilih untuk duduk di meja yang berhampiran dengan hiasan kolam air buatan. Kolam air tersebut dipenuhi dengan ikan-ikan kecil berwarna-warni, yang kelihatan bebas berenang-renang mengelilingi kolam itu.

Tidak sampai 5 minit mereka memesan set makanan, pelayan tersebut datang kembali ke meja mereka.

“maafkan saya.. boleh saya tahu siapa encik Budi ??”, soal pelayan tersebut lembut.

“saya.. kenapa ye ??”, soal Budi kehairanan. Fikirnya ketika itu, bagaimana pula pelayan restoran tersebut tahu akan namanya.

“owh.. ada pesanan untuk encik Budi..”, balas pelayan itu sambil menitipkan sekeping kertas kecil yang dilipat ke atas meja Budi.

Budi mengucapkan terima kasih kepada pelayan tersebut. Setelah pelayan tersebut beredar dari meja mereka, barulah dia mengambil dan membuka kertas kecil tersebut.

Selesai membaca pesanan tersebut, wajahnya sedikit berubah kemerahan. Dia menoleh ke arah suatu sudut di dalam restoran tersebut.

“sekejap lagi aku datang balik...”, ujar Budi lantas bingkas bangun menuju ke sebuah meja yang berada di sudut hujung restoran tersebut.

Mata Amar hanya mengekori arah yang dituju oleh Budi saat itu. Kelihatan Budi duduk di sebuah meja yang ketika itu terdapat seorang lelaki berusia 50-an di situ.

“Budi apa khabar ??”, lelaki tersebut bertanya sebaik Budi duduk di hadapannya.

“macam biasa je..”, jawab Budi acuh tak acuh.

“Datuk nie mengekor saya ke ??”, soal Budi semacam tak berpuas hati.

“salahkah kalau nak jumpa Budi sekejap ??”, soal lelaki tua itu kembali.

“tak ada salahnya pun... tapi, saya takut saya banyak mengambil masa Datuk pulak...”, sindir Budi tajam.

Lelaki itu hanya mengangguk perlahan.

“masa untuk Budi sentiasa ada, cuma Budi je yang tak mengizinkannya...”, balas lelaki tua itu lagi.

Budi lantas merenung tajam ke arah lelaki tua tersebut. Lelaki tua tersebut hanya senyum sinis.

“dengar kata Budi pengsan tempoh hari... Budi sakit ke ??”, soal lelaki tua itu cuba mengendur suasana ketika itu.

Budi menggelengkan kepalanya. Hatinya tertanya-tanya bagaimana lelaki tua itu tahu akan kejadian tempoh hari.

“saya okey je... macam biasa...”, ringkas jawapan Budi lantas bangun untuk meninggalkan meja tersebut.

“Datuk Faisal... i’m appreciate your concern about me... tapi, rasanya tak perlulah sampai pasang spy atau mengekor saya ke sana-sini okey... harap Datuk paham...”, bisik Budi di telinga lelaki tersebut. Kata-katanya, walaupun masih lembut, namun nada-nada ketidakpuasan hatinya tetap ditekankan di situ.

“assalamualaikum...”, ujar Budi, langsung meninggalkan lelaki tua yang bergelar Datuk untuk kembali ke meja Amar.

Sekembalinya Budi di meja mereka, Amar melihat kelibat lelaki tadi bangun dan beredar keluar.

“siapa tue Budi ??”, soal Amar ingin tahu.

“ahh.. abaikan jelah... bukan sesapa pun...”, jawab Budi selamba.

“dah-dah tue, jom makan... aku lapar nie...”, sambung Budi lagi.

Amar hanya mengangguk. Namun, fikirannya ligat memikirkan tentang lelaki tadi dan hubungannya dengan Budi, teman serumahnya.

“eh Budi, aku nak pergi toilet sekejap okey...”, Amar mencari helah dan bingkas bangun.

Budi mengangguk tanpa memandang ke arah Amar. Ketika itu, dia leka menghirup kuah Tom Yam yang masih panas.

Amar bergegas ke arah kawasan parkir kereta. Matanya menoleh ke kanan dan ke kiri untuk mencari kelibat lelaki tadi. Di sudut kawasan parkir kereta itu, dia nampak kelibat seorang lelaki berjalan menuju ke arah sebuah kereta hitam.

Amar berlari pantas untuk memintas lelaki tersebut dan lantas memegang bahunya dari belakang.

“maaf encik... saya nak tanya sikit...”, ujar Amar dari belakang lelaki tadi.

(kembali bersambung jika permintaan berterusan..)

Aidy Shahiezad:- maaflah sebab dah 3 minggu tak update kisah novel nie... dan sekarang, aku update panjang sket dari kebiasaannya... semoga korang enjoy k....

regards,

8 comments:

LURZAN TAZA LIMAJ said...

wahhhhhh...

menarik la

terus nak follow

keep it up ;-D

NAJ HEBAT said...

hailahhh!


suspen lah babe.

opss.. brogahill.

kah kah kah.


naj dah tukar ketawa. lebih macho dari dulu.

kah kah kah.

apamacam?


hee~

kamalgambargrafi said...

nk lagi!!!!!!hahaha

Aidy Shahiezad said...

nazrul:-

thanks...
harap sabar menunggu next chapter..
hehehe.. ;)

Aidy Shahiezad said...

Naj:-

bila mau tukarr ketawa jd lebih ayu dari biasa ?? ehehe... :p

Aidy Shahiezad said...

Khairul:-

insya-Allah..
akan ada sambungan nnt... :)

Cinda... said...

aidy .. sy da byk terlepas entry awk eh .. novel yg sebelum da abes ke?

blogspot kene blok kat opis sy .. so sgt susah nak follow up .. huhuhu .. :(

Aidy Shahiezad said...

Cinda:-

takpe2...
boleh bace perlahan2 bila berkesempatan..

neway, mini novel pertama tue dalam proses break.. selepas tahun baru, akan disambung part baru...

skrg nie, tgh aktif dgn mini novel kedua nie... :D

Faithful Followers

Blog Walking

♥ SILA TINGGALKAN JEJAK KORANG DI SINI.. ♥
Insya-Allah, aku akan rajin2kan diri follow dan blogwalking korang nanti...
♥ THANKS !! ♥
-------------------------------

Network Blogs